GURU, PENEBAR TOLERANSI
Membaca
tulisan yang bertajuk “Bila Guru jad Penyebar Kebencian” pada kolom Opini
harian Analisa, Selasa, 23 Oktober 2018 sungguh membuat naluri keguruan saya
tergelitik. Betapa tidak, paparan data hasil penelitian yang salah dan
pemikiran yang kontraproduktif dalam satu opini menunjukkan ketidakfokusan
penulis dalam memandang permasalahan pendidikan.
Dari
2 (dua) sumber yang saya baca, hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan
Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah menunjukkan data sebanyak 57% guru
memiliki opini intoleransi terhadap agama lain. Bukan seperti yang dituliskan
sebanyak 63, 07%. Kemudian yang menjadi sampel bukan guru Agama Islam,
melainkan guru yang mengajar di Madrasah. Dalam prinsip penelitian, lokasi dan
subjek penelitian sangat mempengaruhi hasil peneletian itu sendiri. Walaupun
hasil penelitian ini debatable,
tetapi saya menghargai nilai keilmuan dalam metode ilmiahnya.
Kemudian
dugaan terhadap tindakan intoleransi yang dikaitkan dengan hasil penelitian
tersebut pantas diduga sebagai satu kekeliruan. Rangkaian peristiwa yang
dipaparkan terjadi dalam kurun waktu satu atau dua tahun terakhir. Pelakunya
adalah orang dewasa, bukan usia sekolah. Artinya sangat berlebihan jika
dikatakan bahwa guru yang berperan dalam aksi intoleransi tersebut. Dari
perbedaan waktu saja sangat tidak berhubungan. Karena penelitian tersebut
dilakukan selama satu bulan dari tanggal 6 Agustus 2018 sampai dengan 6
September 2018. Hanya dugaan dan prasangka yang mungkin menggiring opini untuk
mengait-ngaitkannya.
Pernyataan
tentang guru yang menyebar kebencian juga dibantahkan oleh pernyataannya
sendiri yang mengatakan bahwa “Kehadiran guru di
zaman ini hanya sebagai pelengkap. Guru tidak lagi media transformasi
pengetahuan. Para pelajar sudah lebih cerdas karena hidup di alam digital
yang menyediakan arus informasi tanpa batas. Para guru, terutama yang masih
konvensional, lebih sering menjadi bahan olok-olokan.” Kalau nyatanya
benar seperti itu, tentu guru yang diduga beropini intoleran itu akan menjadi
bahan tertawaan siswa karena ada sumber lain yang mereka baca yang tidak sesuai
dengan pernyataan guru tersebut. Atau sederhananya kalau disadari guru sebagai
pelengkap, mengapa harus menyalahkan guru?
Harus
diakui bahwa bangsa kita sekarang sedang menghadapi banyak persoalan. Banyak
tindakan tidak terpuji dari berbagai pihak meramaikan dinding-dinding media
sosial. Tapi apakah ini salah guru? Ini adalah tanggung jawab kita bersama
sebagai bagian dari anak bangsa. Membaca hasil penelitian lalu
menjeneralisirnya adalah suatu kenaifan. Kita harus saling mendukung untuk
mengatasi permasalahan yang terjadi.
Pendidikan
4.0
Revolusi
industri 4.0 mau tidak mau mempengaruhi proses pendidikan. Dan ini bukan hanya
terjadi di negara kita. Seluruh negera di dunia sedang mempersiapkan
generasinya bertahan dan unggul di era itu. Ini bukan hal yang menakutkan
melainkan suatu tantangan yang harus dijawab dengan perubahan pola pendidikan.
Ketakutan dan nada miring tentang revolusi industri 4.0 adalah satu indikasi
kedangkalan berfikir tentang hakikat sebuah perubahan.
Menurut
Prof. ddr. Boris Abersek, Industri 4.0 setidaknya memiliki 4 (empat) prinsip
yaitu interoperabilitas, keterbukaan informasi, dukungan teknik, decentralisasi
pengambilan keputusan. Interoperabilitas merupakan merupakan kemampuan berbagai ragam sistem untuk bekerja sama
dan kemampuan sebuah sistem untuk bekerja atau digunakan oleh sistem lain.
Kemampuan manusia untuk terhubung dengan mesin dan teknologi dalam jaringan
internet (digital) secara global.
Keterbukaan
informasi berbasis data dalam sistem informasi yang terkoneksi ke semua sistem
merupakan nilai baik untuk menghasilkan karakter jujur dan profesional dan
menyampaikan dan menerima informasi. Ini harus dipandang sebagai satu hal
positif yang menghindarkan kita dari kekeliruan menangkap informasi. Dukungan
peralatan, robot misalnya, harus juga dipandang sebagai hal positif. Begitulah
kondisi yang harus kita hadapi. Bukan mengeluh dan tegang sampai naik tensi
karena itu semua. Menciptakan inovasi pembelajaran di sekolah-sekolah,
mengenalkan program robot dan cara membuat robot sejak dini adalah langkah
positif yang dapat dilakukan daripada ketakutan yang tidak menentu. Dan
pemerintah juga sudah mengarahkan pendidikan ke arah itu.
Pernyataan
yang menyebutkan bahwa industri 4.0 adalah sesuatu yang mengerikan juga sangat
tidak beralasan. Pendidikanlah yang mengatasinya dan gurulah yang
memfasilitasinya. Untuk kita ketahui bersama bahwa pada abad 21, lebih kurang
1/8 saja jumlah manusia yang dibutuhkan untuk pekerja musiman atau tidak mempunyai
kualifikasi. Selebihnya 7/8 manusia adalah pekerja keras, dan pekerja yang mau belajar dan dan mampu
mengelola waktu dan pekerjaannya. Apakah kita harus menakuti keberadaannya?
Guru harus optimis untuk menanamkan itu kepada peserta didik. Guru harus mampu
memberi motivasi bukan malah menakut-nakuti. Ciri pendidikan 4.0 adalah melihat
semua dari sisi baiknya, bukan sisi buruknya.
Adalah
keliru ketika dikatakan bahwa generasi milenial menghamba pada kecerdasan dan
kekuatan dirinya sendiri. Karena keterampilan 4.0 menuntut manusia untuk cerdas
emosinya dan mampu berkomunikasi dan menjaling jaringan dengan orang lain.
Sifat kecerdasan pada masa ini sangatlah fleksibel.
Dalam
pendidikan 4.0, keberhasilan sistem pendidikan ditentukan oleh keseimbangan
antara nilai tradisi dan kapasitas serta kemampuan beradaptasi dengan
lingkungan sosial baru. Sekali lagi ini adalah hal positif yang harus kita
tularkan kepada siswa kita di sekolah masing-masing.
Untuk
menjadi guru yang baik di era ini, guru harus menguasai berbagai disiplin ilmu
secara luas dan mendalam. Guru zaman ini tidak cukup menguasai bidang ilmunya
saja. Guru harus tetap dinamis dan terus belajar. Memang ini adalah tantangan
guru yang harus direspon dengan nada positif. Guru harus siap merubah gaya
belajar konvensional dengan strategi mengajar modern berbasis masalah dan berbasis penelitian.
Tugas
guru adalah menebar nilai-nilai kebersamaan atau toleransi melalui penanaman
berfikir kreatif, berfikir kritis, penyelesaian masalah, kolaborasi,
kooperatif, dan berdialog. Tantangan kita adalah industri 4.0 harus diatasi
dengan pendidikan 4.0. Pendidikan 4.0 sangat erat kaitannya dengan pendidikan
karakter dan program literasi secara luas. Penanaman kemajemukan hidup
sebenarnya sudah dilakukan guru untuk menyambut era 4.0 ini.
Guru
bukanlah satu-satunya sumber informas. Oleh karena itu, tidak pantas juga
menyalahkan guru sebaga penebar kebencian. Masih banyak variabel yang
menentukan tingkat intoleransi di negara kita. Kita seharusnya saling mendukung
untuk menyiapkan generasi kita siap menghadapi revolusi industri tahap keempat
ini. Bergandengan tangan dan tidak menyalahkan satu sama lain mengkin dapat membantu
negara ini siap secara afektif, kognitif dan psikomotorik menciptakan robot,
mesin dan teknologi informasi masa depan.