Dimana Kau Ayah. Dimana Kau Ibu?
Hari itu, Rabu, 20 Maret 2019 agak malas aku membuka mataku. Kakiku berdenyut sampai terasa ke kepala bagian belakang. Ingus yang belum jadi sesekali terhempas keluar dari lubang hidungku yang tak mancung. Tapi suara permaisuriku tak berhenti memanggil dan mengingatkan waktu shalat Subuh hampir habis. Malas, namun kulangkahkan juga kakiku yang terasa sakit kalau dipijakkan.
Habis mandi, shalat, sarapan dan sedikit bercengkrama dengan tiga buah hatiku, perlahan aku menyetir Xenia hijau menuju sekolah. Bercanda ria dengan anak-anak sering kulakukan di pagi hari bersebab aku sampai rumah nanti pada saat hari gelap lagi. Kutelusuri jalan Medan - Binjai sejauh lebih kurang 40 kilometer. Hitunganku ada ada 16 lampu merah yang kulalui. Tapi hanya tikongan; tikungan kiri dan tikungan kanan. He....he....he.... Setelah satu jam, sampai juga aku di dapurku; SMP Negeri 13 Binjai.
Sampai di sekolah dua orang siswa sudah menunggu dan menagih janji untuk latihan. Mereka sedang bersiap untuk menghadapi lomba menulis artikel dan lomba pidato bahasa Inggris di Perpustakaan Binjai. Sesi latihan pun dimulai. Yang menulis artikel mulai mengembangkan kerangka tulisan yang sudah kami sepakati. Yang pidato bahasa Inggris juga melatih pidatonya di depanku. Aku memutar aplikasi stopwatch otomatis di laptop untuk mengukur waktu pidatonya. Kelucuan terjadi, saat dia berpidato, aku yang menyandarkan kepala di kursi ternyata keterusan tertidur lelap. Tak pernah aku begini sebelumnya. Aku terbangun dengan durasi waktu yang tertampil 15 menit, padahal durasi pidatonya hanya 5 menit dan belum habis ku dengar sampai habis. Baiknya anak ini, tidak membangunkanku dan membiarkanku tertidur sambil duduk di depan mejaku. Sungguh aku guru yang memalukan. he...he...he...
Penuh rasa malu, aku meminta maaf dan langsung menuju kelas 8-1 untuk mengajar. Baru 10 menit mengajar, datang dua siswa perempuan agak tergopoh-gopoh.
"Pak, di kelas kami ada yang kehilangan uang," lapornya.
"Lho, kok bisa? Dah lapor ke wali kelasnya, Nak,?" aku balik bertanya.
"Sudah, Pak. Tadi dah diproses bu Mega juga, Pak. tapi gak dapat orangnya. Buk Mega suruh kami lapor ke Bapak." anak itu menambahkan.
"Baiklah, sebentar lagi bapak ke kelas kalian. Tunggu saja di kelas ya".
Aku pun berjalan ke kelas anak-anak yang melapor tadi. Sampai di kelas semua terdiam, termasuk aku. Aku memutar otak bagaimana memecahkan kasus ini. he...he..
Bermodalkan pengetahuan dari fim kartun Detective Conan, aku mulai investigasi.
"Berapa uang yang hilang?" tanyaku dengan tenang.
"Minggu lalu, 60 ribu pak, barusan tadi 80 ribu pak.? jawab si empunya uang yang ternyata adalah bendahara "Jula-Jula" di kelasnya.
"Oke, Siapa yang mau mengaku mengambilnya? kejarku.
Tak satu pun siswa yang mengacungkan tangannya. Aku juga merasa bodoh mengajukan pertanyaan sebodoh itu.
"Baik, anak-anak sekalian. Sekarang bapak ma tanya. Kalau ada yang kehilangan uang di kampungmu, kemungkinan besar pelakunya siapa?, tanyaku.
"Orang kampung itu juga, Pak." Jawab anak-anak itu serentak.
"Nah, sekarang kalau ada kehilangan di kelas ini, kemungkinan besar pelakunya siapa ya?, tanyaku lagi.
"Yang di kelas ini juga lah itu pak." jawab mereka lagi.
"Tapi tadi sudah diperiksa bu Mega semua tas dan kantong setiap siswa di kelas ini, Pak. Tapi gak dapat juga uangnya." ucap sang ketua kelas.
Kembali otakku berputar menemukan cara apa yang paling tepat untuk menemukan uang itu. Akhirnya kucoba cara yang sedikit horor.
"Nak, kalian kan tahu, kita tinggal di Tanah Seribu. Tak jauh dari sekolah kita ini, sudah kabupaten Langkat. Ada Namu Ukur ada Namu Sira-Sira. Di sana masih banyak dukun kan? Bapak kasih waktu 24 jam. Siapa saja yang mengambil uang itu, mengaku saja sama bapak diam-diam. Bapak akan menjaga rahasianya. Bapak pastikan tak ada orang lain yang tahu pelakunya. Kalau setelah 24 jam tidak ada yang menjumpai bapak, maka dukun bertindak. Artinya akan ada kutipan sumbangan kemalangan atas nama salah satu siswa di kelas ini. Kalian paham?. Jelasku pada mereka dengan berlagak pasti.
Setelah itu, aku meninggalkan kelas itu dan kembali mengajar di kelas bahasa Inggrisku. Baru lima belas menit mengajar, datang lagi siswa dari kelas yang tadi kehilangan. Kali ini bukan cuma dua siswa, tapi lebih dari sepuluh siswa yang datang dengan wajah ketakutan.
"Pak.... Pak.... Pak.... Uang yang 80 rbunya sudah dapat pak." kata mereka.
"Lho... Kok bisa....? Tanyaku heran tapi pasti.
"Iya pak. Uangnya dibalikkan ke tas saya pak. Tapi uangnya berserak-serak pak. Dimasukkan dalam tas saya pak. Tas saya pun masih terbuka pak.
"Kalian tahu siapa yang mengembalikannya" kejarku.
"Gak tahu, Pak. Ada tuyul mungkin di kelas kami, Pak" jawab mereka ketakutan.
Aku kurang percaya dengan takhayul, kalau pun sekiranya betul tuyul yang mengambil, tak mungkin juga tuyul bisa mengangkat uang dua ribua yang sudah kusut. Kalau masa aku kecil dulu, ku dengar-dengar tuyul hanya bisa mengambil uang selembar, itupun uang baru.
"Nanti Bapak kelas kalian, Bapak siapkan dulu ngajar di kelas ini" kataku.
Mereka pergi dan aku lanjut mengajar. Belum lagi bebrapa kalimat yang kujelaskan pada siswaku, datang lagi mereka ramai-ramai hampir satu kelas.
"Pak...Pak... Ada tulisan ini di kertas pak. Kami gak tau siapa dan kapan diletakkan dilaci bendahara pak."'
"Ayolah kita ke kelas kalian." ajakku dengan perasaan aneh.
Sampai di kelas mereka, suasana kelas sudah gaduh dan riuh. Semua siswa ketakutan. Sudah ada beberapa guru di kelas itu. Aku berusaha menenangkan dan mulai angkat bicara.
"Siapa yang menulis kertas ini?"
Tak ada yang menjawab. Semua menatapku seolah mohon perlindungan.
"Siapa yang pertama menemukan kertas ini." tanyaku.
"Saya pak, tadi saya waktu cari-cari nampak kertas di lacinya pak" kata seorang siswa.
"Apa urusannya kamu melihat-lihat lacinya dan kenapa kamu curiga kalau kertas itu ada pesannya. Bukankah biasa kalau ada kertas di laci meja?" kejarku.
"Kelas kami gak pernah ada kertas di Meja pak. Karena kalau ada kertas di laci, dimarahi sama wali kelas pak." Jawabnya.
"Baik, sekarang kumpulkan semua buku catatan di meja bapak." perintahku.
Aku memancing lagi pengakuan siswa dengan mengatakan bahwa belum tentu yang menulis kertas ini adalah pelakunya. Mungkin saja dia iseng.
Pancinganku berhasil, seorang siswa mengacungkan tangannya dan mengaku kalau dia yang menulisnya. Seperti dugaan awalku, yang menulisnya adalah siswa yang pertama kali menemukan tulisan itu.
Aku menutup investigasi dengan membawa siswa itu ke ruanganku sambil menitipkan pesan, siapa saja yang mengambil uang itu, Bapak tunggu sampai jam empat sore ini di ruangan bapak.
Bell pulang berbunyi dan tak lama setelah itu dua siswa, satu perempun dan satu laki-laki menghadap dan mengakui perbuatan mereka. Dan di sinilah cerita sedih berurai air mata terjadi.
Si siswa perempuan mengaku mengambil uang sambil menganis meminta maaf kepadaku. Dia adalah anak korban perceraian kedua orang tuanya. Orangtuanya sudah bercerai sejak dia masih kecil. Ibu dan ayah kandungnya masing-masing sudah menikah lagi. Dia tinggal bersama neneknya, nenek dari ayahnya. Dia mengambil uang itu karena alasan perut. Dia juga ingin jajan seperti kawan-kawannya yang lain. Ayahnya jarang sekali memberinya uang jajan. Yang membuat hati ini sedih, neneknya melarangnya untuk bertemu ibu kandungnya. Dia diancam akan diusir dari rumah kalau dia berani bertemu dengan ibu kandungnya. Ini diperparah lagi dengan sikap ibunya. Ibunya juga tidak berani bertemu dia karena kalau bertemu ibunya akan diusir oleh suaminya yang baru. Pernah katanya dia dan adiknya beranikan diri untuk bertemu dengan ibunya, tetapi ibunya mengatakan "Ibu sayang sama kalian, tapi suami ibu melarang ibu bertemu kalian". Aku tak habis fikir, sayang seperti apa yang dimaksud ibu itu. Dan aku juga heran, ayah seperti apa yang tega meninggalkan anaknya dan hidup bersama istri baru. Apakah mereka tidak sadar, anak mereka rindu pelukan dan kasih sayang mereka.
Si siswa laki-laki adalah anak yang setelah dilahirkan tak tahu siapa ayahnya. Berkali-kali aku bertanya memastikan kalau-kalau dia pernah bertemu ayahnya. Tapi dia menjawab sama sekali tidak pernah mengenal ayah dalam hidupnya. Haru menyelimuti hatiku. Bagaimana anak sekecil ini tumbuh tanpa tahu paling tidak siapa ayahnya. Apa kelak yang akan dia ceritakan pada generasi kalau bertanya siapa kakeknya. Sementara ibunya adalah TKW di Malaysia. Tak jelas juga dia sebagai apa ibunya bekerja di sana. Kadang mengirim uang-kadang tidak. Dia juga tinggal bersama neneknya. Aku bertambah benci pada negara ini. Yang bangga pada pertumbuhan ekonomi makro tapi tak seperti mentup mata pada kemiskinan yang terjadi. Pahlawan devisa meninggalkan duka. Duka bagi anak ini karena tak sempat dinyanyikan lagu pengantar tidur.
Kedua anak ini adalah korban egoisme orang tua. Atas nama harga diri, orang tua rela membiarkan anaknya tidur tanpa belaian kasih sayang dan nyanyian pengantar tidur. Hati mereka kosong. Mungkin mereka takut bercita-cita karena tidak ada yang rutin menanyakannya seperti orang tua yang lain.
Kutitipkan pesan kepada kedua anak jujur itu, WALAUPUN KALIAN LAPAR DAN MISKIN, JANGAN SEKALI-SEKALI KALIAN MENCURI.
Bersambung di hari berikutnya...
