Jumat, 22 Maret 2019

Catatan Harian Seorang Guru (1)

Dimana Kau Ayah. Dimana Kau Ibu?

Hari itu, Rabu, 20 Maret 2019 agak malas aku membuka mataku. Kakiku berdenyut sampai terasa ke kepala bagian belakang. Ingus yang belum jadi sesekali terhempas keluar dari lubang hidungku yang tak mancung. Tapi suara permaisuriku tak berhenti memanggil dan mengingatkan waktu shalat Subuh hampir habis. Malas, namun kulangkahkan juga kakiku yang terasa sakit kalau dipijakkan. 
Habis mandi, shalat, sarapan dan sedikit bercengkrama dengan tiga buah hatiku, perlahan aku menyetir Xenia hijau menuju sekolah. Bercanda ria dengan anak-anak sering kulakukan di pagi hari bersebab aku sampai rumah nanti pada saat hari gelap lagi. Kutelusuri jalan Medan - Binjai sejauh lebih kurang 40 kilometer. Hitunganku ada ada 16 lampu merah yang kulalui. Tapi hanya tikongan; tikungan kiri dan tikungan kanan. He....he....he.... Setelah satu jam, sampai juga aku di dapurku; SMP Negeri 13 Binjai.
Sampai di sekolah dua orang siswa sudah menunggu dan menagih janji untuk latihan. Mereka sedang bersiap untuk menghadapi lomba menulis artikel dan lomba pidato bahasa Inggris di Perpustakaan Binjai. Sesi latihan pun dimulai. Yang menulis artikel mulai mengembangkan kerangka tulisan yang sudah kami sepakati. Yang pidato bahasa Inggris juga melatih pidatonya di depanku. Aku memutar aplikasi stopwatch otomatis di laptop untuk mengukur waktu pidatonya. Kelucuan terjadi, saat dia berpidato, aku yang menyandarkan kepala di kursi ternyata keterusan tertidur lelap. Tak pernah aku begini sebelumnya. Aku terbangun dengan durasi waktu yang tertampil 15 menit, padahal durasi pidatonya hanya 5 menit dan belum habis ku dengar sampai habis. Baiknya anak ini, tidak membangunkanku dan membiarkanku tertidur sambil duduk di depan mejaku. Sungguh aku guru yang memalukan. he...he...he...
Penuh rasa malu, aku meminta maaf dan langsung menuju kelas 8-1 untuk mengajar. Baru 10 menit mengajar, datang dua siswa perempuan agak tergopoh-gopoh.
"Pak, di kelas kami ada yang kehilangan uang," lapornya.
"Lho, kok bisa? Dah lapor ke wali kelasnya, Nak,?" aku balik bertanya.
"Sudah, Pak. Tadi dah diproses bu Mega juga, Pak. tapi gak dapat orangnya. Buk Mega suruh kami lapor ke Bapak." anak itu menambahkan. 
"Baiklah, sebentar lagi bapak ke kelas kalian. Tunggu saja di kelas ya".
Aku pun berjalan ke kelas anak-anak yang melapor tadi. Sampai di kelas semua terdiam, termasuk aku. Aku memutar otak bagaimana memecahkan kasus ini. he...he..
Bermodalkan pengetahuan dari fim kartun Detective Conan, aku mulai investigasi.
"Berapa uang yang hilang?" tanyaku dengan tenang.
"Minggu lalu, 60 ribu pak, barusan tadi 80 ribu pak.? jawab si empunya uang yang ternyata adalah bendahara "Jula-Jula" di kelasnya. 
"Oke, Siapa yang mau mengaku mengambilnya? kejarku.
Tak satu pun siswa yang mengacungkan tangannya. Aku juga merasa bodoh mengajukan pertanyaan sebodoh itu. 
"Baik, anak-anak sekalian. Sekarang bapak ma tanya. Kalau ada yang kehilangan uang di kampungmu, kemungkinan besar pelakunya siapa?, tanyaku.
"Orang kampung itu juga, Pak." Jawab anak-anak itu serentak.
"Nah, sekarang kalau ada kehilangan di kelas ini, kemungkinan besar pelakunya siapa ya?, tanyaku lagi.
"Yang di kelas ini juga lah itu pak." jawab mereka lagi.
"Tapi tadi sudah diperiksa bu Mega semua tas dan kantong setiap siswa di kelas ini, Pak. Tapi gak dapat juga uangnya." ucap sang ketua kelas.
Kembali otakku berputar menemukan cara apa yang paling tepat untuk menemukan uang itu. Akhirnya kucoba cara yang sedikit horor.
"Nak, kalian kan tahu, kita tinggal di Tanah Seribu. Tak jauh dari sekolah kita ini, sudah kabupaten Langkat. Ada Namu Ukur ada Namu Sira-Sira. Di sana masih banyak dukun kan? Bapak kasih waktu 24 jam. Siapa saja yang mengambil uang itu, mengaku saja sama bapak diam-diam. Bapak akan menjaga rahasianya. Bapak pastikan tak ada orang lain yang tahu pelakunya. Kalau setelah 24 jam tidak ada yang menjumpai bapak, maka dukun bertindak. Artinya akan ada kutipan sumbangan kemalangan atas nama salah satu siswa di kelas ini. Kalian paham?. Jelasku pada mereka dengan berlagak pasti.
Setelah itu, aku meninggalkan kelas itu dan kembali mengajar di kelas bahasa Inggrisku. Baru lima belas menit mengajar, datang lagi siswa dari kelas yang tadi kehilangan. Kali ini bukan cuma dua siswa, tapi lebih dari sepuluh siswa yang datang dengan wajah ketakutan.
"Pak.... Pak.... Pak.... Uang yang 80 rbunya sudah dapat pak." kata mereka.
"Lho... Kok bisa....? Tanyaku heran tapi pasti.
"Iya pak. Uangnya dibalikkan ke tas saya pak. Tapi uangnya berserak-serak pak. Dimasukkan dalam tas saya pak. Tas saya pun masih terbuka pak. 
"Kalian tahu siapa yang mengembalikannya" kejarku.
"Gak tahu, Pak. Ada tuyul mungkin di kelas kami, Pak" jawab mereka ketakutan.
Aku kurang percaya dengan takhayul, kalau pun sekiranya betul tuyul yang mengambil, tak mungkin juga tuyul bisa mengangkat uang dua ribua yang sudah kusut. Kalau masa aku kecil dulu, ku dengar-dengar tuyul hanya bisa mengambil uang selembar, itupun uang baru.
"Nanti Bapak kelas kalian, Bapak siapkan dulu ngajar di kelas ini" kataku.
Mereka pergi dan aku lanjut mengajar. Belum lagi bebrapa kalimat yang kujelaskan pada siswaku, datang lagi mereka ramai-ramai hampir satu kelas.
"Pak...Pak... Ada tulisan ini di kertas pak. Kami gak tau siapa dan kapan diletakkan dilaci bendahara pak."'

"Ayolah kita ke kelas kalian." ajakku dengan perasaan aneh.
Sampai di kelas mereka, suasana kelas sudah gaduh dan riuh. Semua siswa ketakutan. Sudah ada beberapa guru di kelas itu. Aku berusaha menenangkan dan mulai angkat bicara.
"Siapa yang menulis kertas ini?"
Tak ada yang menjawab. Semua menatapku seolah mohon perlindungan.
"Siapa yang pertama menemukan kertas ini." tanyaku.
"Saya pak, tadi saya waktu cari-cari nampak kertas di lacinya pak" kata seorang siswa.
"Apa urusannya kamu melihat-lihat lacinya dan kenapa kamu curiga kalau kertas itu ada pesannya. Bukankah biasa kalau ada kertas di laci meja?" kejarku.
"Kelas kami gak pernah ada kertas di Meja pak. Karena kalau ada kertas di laci, dimarahi sama wali kelas pak." Jawabnya.
"Baik, sekarang kumpulkan semua buku catatan di meja bapak." perintahku.
Aku memancing lagi pengakuan siswa dengan mengatakan bahwa belum tentu yang menulis kertas ini adalah pelakunya. Mungkin saja dia iseng.
Pancinganku berhasil, seorang siswa mengacungkan tangannya dan mengaku kalau dia yang menulisnya. Seperti dugaan awalku, yang menulisnya adalah siswa yang pertama kali menemukan tulisan itu.
Aku menutup investigasi dengan membawa siswa itu ke ruanganku sambil menitipkan pesan, siapa saja yang mengambil uang itu, Bapak tunggu sampai jam empat sore ini di ruangan bapak.

Bell pulang berbunyi dan tak lama setelah itu dua siswa, satu perempun dan satu laki-laki menghadap dan mengakui perbuatan mereka. Dan di sinilah cerita sedih berurai air mata terjadi.

Si siswa perempuan mengaku mengambil uang sambil menganis meminta maaf kepadaku. Dia adalah anak korban perceraian kedua orang tuanya. Orangtuanya sudah bercerai sejak dia masih kecil. Ibu dan ayah kandungnya masing-masing sudah menikah lagi. Dia tinggal bersama neneknya, nenek dari ayahnya. Dia mengambil uang itu karena alasan perut. Dia juga ingin jajan seperti kawan-kawannya yang lain. Ayahnya jarang sekali memberinya uang jajan. Yang membuat hati ini sedih, neneknya melarangnya untuk bertemu ibu kandungnya. Dia diancam akan diusir dari rumah kalau dia berani bertemu dengan ibu kandungnya. Ini diperparah lagi dengan sikap ibunya. Ibunya juga tidak berani bertemu dia karena kalau bertemu ibunya akan diusir oleh suaminya yang baru. Pernah katanya dia dan adiknya beranikan diri untuk bertemu dengan ibunya, tetapi ibunya mengatakan "Ibu sayang sama kalian, tapi suami ibu melarang ibu bertemu kalian". Aku tak habis fikir, sayang seperti apa yang dimaksud ibu itu. Dan aku juga heran, ayah seperti apa yang tega meninggalkan anaknya dan hidup bersama istri baru. Apakah mereka tidak sadar, anak mereka rindu pelukan dan kasih sayang mereka. 
Si siswa laki-laki adalah anak yang setelah dilahirkan tak tahu siapa ayahnya. Berkali-kali aku bertanya memastikan kalau-kalau dia pernah bertemu ayahnya. Tapi dia menjawab sama sekali tidak pernah mengenal ayah dalam hidupnya. Haru menyelimuti hatiku. Bagaimana anak sekecil ini tumbuh tanpa tahu paling tidak siapa ayahnya. Apa kelak yang akan dia ceritakan pada generasi kalau bertanya siapa kakeknya. Sementara ibunya adalah TKW di Malaysia. Tak jelas juga dia sebagai apa ibunya bekerja di sana. Kadang mengirim uang-kadang tidak. Dia juga tinggal bersama neneknya. Aku bertambah benci pada negara ini. Yang bangga pada pertumbuhan ekonomi makro tapi tak seperti mentup mata pada kemiskinan yang terjadi. Pahlawan devisa meninggalkan duka. Duka bagi anak ini karena tak sempat dinyanyikan lagu pengantar tidur.
Kedua anak ini adalah korban egoisme orang tua. Atas nama harga diri, orang tua rela membiarkan anaknya tidur tanpa belaian kasih sayang dan nyanyian pengantar tidur. Hati mereka kosong. Mungkin mereka takut bercita-cita karena tidak ada yang rutin menanyakannya seperti orang tua yang lain.

Kutitipkan pesan kepada kedua anak jujur itu, WALAUPUN KALIAN LAPAR DAN MISKIN, JANGAN SEKALI-SEKALI KALIAN MENCURI.

Bersambung di hari berikutnya...



Kamis, 21 Maret 2019

LAPAK BACA UNTUK ANAK JALANAN


LAPAK BACA UNTUK ANAK JALANAN
            Anak jalanan adalah bagian dari generasi muda. Sebagai bagian dari generasi muda, tentu anak jalanan harus dianggap sebagai aset yang berpotensi untuk memajukan pembangungan di Indonesia. Keberadaan anak jalanan di setiap persimpangan lampu merah, pusat pasar, koridor pertokoan dan tempat keramaian lainnya selayaknya menjadi perhatian semua pihak. Harus disadari bahwa keadaan mereka bukanlah kehendak mereka sendiri melainkan faktor sosial ekonomi yang mengharuskan mereka bergelut dengan debu jalanan. Mengubah pola hidup mereka tidak cukup dengan diskusi dan pidato saja. Harus ada cara persuasif untuk mendekati mereka agar mau sekolah dan belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyediakan lapak baca untuk anak jalanan.
            Lapak baca dapat diartikan sebagai tempat untuk membaca. Anak jalanan dapat dipengaruhi cara berfikirnya dengan meyediakan bahan bacaan. Dengan kondisi jiwa anak jalanan, tentu sulit untuk mengajak mereka sekolah apalagi untuk berkunjung ke perpustakaan. Mendekatkan buku ke mereka adalah alternatif untuk mengajak mereka membaca. Penyediaan buku-buku bertema fiksi atau komik mungkin saja bisa mengundang ketertarikan mereka untuk membaca. Lapak baca dapat didirikan di setiap tempat mereka berkumpul. Di Sumatra Utara, ini sama sekali belum ada. Sumatra Utara akan menjadi provinsi literasi sebenarnya dengan menerapkan lapak baca ini.
            Keberadaan lapak baca memberikan alternatif kegiatan penumbuhan minat baca pada generasi muda, khususnya anak jalanan. Gerakan literasi atau gerakan membaca dan menulis selayaknya bukan hanya milik anak yang berseragam sekolah melainkan juga buat mereka yang kurang beruntung untuk merasakan pendidikan formal.
            Selama ini, gerakan membaca hanya menyentuh anak yang bersekolah saja. Perpusatakaan berkeliling dari sekolah ke sekolah saja. Tentu ini merupakan juga langkah baik. Tetapi jika dilihat dari sasarannya, hanya terbatas pada anak sekolah yang di sekolahnya juga sudah ada perpustakaan. Walaupun bermanfaat bagi siswa, tetapi ini seperti pribahasa ‘menebar garam ke laut’. Menambah rasa asin kepada sesuatu yang memang sudah asin. Sekali lagi, penulis mengatakan bahwa perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah bukan tidak baik tapi kurang terasa manfaatnya.
            Keberadaan anak jalanan seharusnya dikelola dengan mencerahkan pemikirian mereka. Cara efektifnya adalah dengan mendekatkan buku kepada mereka. Menyediakan lapak buku di titik-titik kumpul anak jalanan adalah solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswa. Semboyannya harus berganti dari “Ayo ke perpustakaan”” menjadi “Perpustakaan ada dimana-mana”. Tentu ini tidak hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan saja. Semua pihak harus berperan aktif dalam menciptakan lapak baca di titik-titik kumpul anak jalanan.
Langkah Strategis
            Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan lapak baca untuk anak jalanan.
1. Mobil perpustakaan keliling di titik kumpul anak jalanan.
            Seperti yang disampaikan sebelumnya, mobil perpustakaan hanya berkeliling ke sekolah-sekolah saja. Kita akan menemukan pemandangan yang sejuk dan cerdas jika mobil perpustakaan keliling di kerumuni oleh anak jalanan untuk membaca. Setiap hari mobil perpustakaan dapat berkeliling di pusat pasar, depan Mall, simpangan lampu merah dan semua tempat yang biasa digunakan oleh anak jalanan.
2. Menyediakan buku yang menarik
            Anak jalanan bekerja untuk hidup. Kalimat ini penting untuk mencari jenis buku yang sesuai dengan kondisi mereka. Misalnya, buku tentang cara berdagang yang baik, buku tentang teknik bermain gitar atau alat musik lain, buku tentang pola hidup sehat, cerita tentang orang-orang sukses. Buku fiksi bergambar sejenis komik juga mungking menarik mereka untuk hiburan. Buku-buku tersebut diyakini dapat bermanfaat langsung bagi kehidupan mereka tanpa harus menggurui mereka karena biasanya mereka tidak suka digurui. Lama kelamaan diharapkan mereka akan mencari buku lain yang bermanfaat bagi mereka. Setelah mereka sudah cinta buku maka mereka akan mendatangi sekolah untuk belajar.
3. Peran masyarakat
            Sumbangan buku untuk anak jalanan juga sangat membantu anak jalanan untuk berkesempatan membaca buku. Dengan mahalnya harga buku, sumbangan buku dapat memberi vitamin fikir kepada anak jalanan. Masyarakat dapat mendirikan lapak buku di tempat berkumpul anak jalanan.
4. Mengadakan lomba membaca untuk anak jalanan
            Ini adalah hal yang menarik. Anak jalanan dibujuk untuk mau ikut lomba berpuisi, lomba menulis, lomba pidato antar sesama mereka. Penulis yakin mereka akan semangat mengikuti ini karena puisinya pasti puisi yang ditulis dari hati dan pengalaman yang mereka rasakan. Dengan ketulusan hati, mereka akan berpuisi, berpidato dan bercerita tentang kehidupan nyata mereka. Hasil karya mereka dapat dijadikan rujukan untuk menggali bakat dan minat mereka.
            Lapak buku untuk anak jalanan ini bukan hal mudah untuk dilakukan. Namun dengan memandang keberlangsungan kualitas manusia Sumatera Utara di masa depan, hal ini harus dilakukan. Bagaimanapun mereka adalah bagian dari masyrakat. Mereka harus mendapat kesempatan yang sama dengan anak lain. Dengan usaha ikhlas, mereka akan mau membaca. Peran dari semua pihaklah yang dapat menumbuhkan minat baca mereka. Tujuan akhirnya adalah mereka dapat kembali ke bangku sekolah dan meraih mimpi mereka. Lapak buku diharapkan dapat menjadi ikon Sumatra Utara sebagai provinsi literasi.