Kamis, 21 Maret 2019

LAPAK BACA UNTUK ANAK JALANAN


LAPAK BACA UNTUK ANAK JALANAN
            Anak jalanan adalah bagian dari generasi muda. Sebagai bagian dari generasi muda, tentu anak jalanan harus dianggap sebagai aset yang berpotensi untuk memajukan pembangungan di Indonesia. Keberadaan anak jalanan di setiap persimpangan lampu merah, pusat pasar, koridor pertokoan dan tempat keramaian lainnya selayaknya menjadi perhatian semua pihak. Harus disadari bahwa keadaan mereka bukanlah kehendak mereka sendiri melainkan faktor sosial ekonomi yang mengharuskan mereka bergelut dengan debu jalanan. Mengubah pola hidup mereka tidak cukup dengan diskusi dan pidato saja. Harus ada cara persuasif untuk mendekati mereka agar mau sekolah dan belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyediakan lapak baca untuk anak jalanan.
            Lapak baca dapat diartikan sebagai tempat untuk membaca. Anak jalanan dapat dipengaruhi cara berfikirnya dengan meyediakan bahan bacaan. Dengan kondisi jiwa anak jalanan, tentu sulit untuk mengajak mereka sekolah apalagi untuk berkunjung ke perpustakaan. Mendekatkan buku ke mereka adalah alternatif untuk mengajak mereka membaca. Penyediaan buku-buku bertema fiksi atau komik mungkin saja bisa mengundang ketertarikan mereka untuk membaca. Lapak baca dapat didirikan di setiap tempat mereka berkumpul. Di Sumatra Utara, ini sama sekali belum ada. Sumatra Utara akan menjadi provinsi literasi sebenarnya dengan menerapkan lapak baca ini.
            Keberadaan lapak baca memberikan alternatif kegiatan penumbuhan minat baca pada generasi muda, khususnya anak jalanan. Gerakan literasi atau gerakan membaca dan menulis selayaknya bukan hanya milik anak yang berseragam sekolah melainkan juga buat mereka yang kurang beruntung untuk merasakan pendidikan formal.
            Selama ini, gerakan membaca hanya menyentuh anak yang bersekolah saja. Perpusatakaan berkeliling dari sekolah ke sekolah saja. Tentu ini merupakan juga langkah baik. Tetapi jika dilihat dari sasarannya, hanya terbatas pada anak sekolah yang di sekolahnya juga sudah ada perpustakaan. Walaupun bermanfaat bagi siswa, tetapi ini seperti pribahasa ‘menebar garam ke laut’. Menambah rasa asin kepada sesuatu yang memang sudah asin. Sekali lagi, penulis mengatakan bahwa perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah bukan tidak baik tapi kurang terasa manfaatnya.
            Keberadaan anak jalanan seharusnya dikelola dengan mencerahkan pemikirian mereka. Cara efektifnya adalah dengan mendekatkan buku kepada mereka. Menyediakan lapak buku di titik-titik kumpul anak jalanan adalah solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswa. Semboyannya harus berganti dari “Ayo ke perpustakaan”” menjadi “Perpustakaan ada dimana-mana”. Tentu ini tidak hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan saja. Semua pihak harus berperan aktif dalam menciptakan lapak baca di titik-titik kumpul anak jalanan.
Langkah Strategis
            Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan lapak baca untuk anak jalanan.
1. Mobil perpustakaan keliling di titik kumpul anak jalanan.
            Seperti yang disampaikan sebelumnya, mobil perpustakaan hanya berkeliling ke sekolah-sekolah saja. Kita akan menemukan pemandangan yang sejuk dan cerdas jika mobil perpustakaan keliling di kerumuni oleh anak jalanan untuk membaca. Setiap hari mobil perpustakaan dapat berkeliling di pusat pasar, depan Mall, simpangan lampu merah dan semua tempat yang biasa digunakan oleh anak jalanan.
2. Menyediakan buku yang menarik
            Anak jalanan bekerja untuk hidup. Kalimat ini penting untuk mencari jenis buku yang sesuai dengan kondisi mereka. Misalnya, buku tentang cara berdagang yang baik, buku tentang teknik bermain gitar atau alat musik lain, buku tentang pola hidup sehat, cerita tentang orang-orang sukses. Buku fiksi bergambar sejenis komik juga mungking menarik mereka untuk hiburan. Buku-buku tersebut diyakini dapat bermanfaat langsung bagi kehidupan mereka tanpa harus menggurui mereka karena biasanya mereka tidak suka digurui. Lama kelamaan diharapkan mereka akan mencari buku lain yang bermanfaat bagi mereka. Setelah mereka sudah cinta buku maka mereka akan mendatangi sekolah untuk belajar.
3. Peran masyarakat
            Sumbangan buku untuk anak jalanan juga sangat membantu anak jalanan untuk berkesempatan membaca buku. Dengan mahalnya harga buku, sumbangan buku dapat memberi vitamin fikir kepada anak jalanan. Masyarakat dapat mendirikan lapak buku di tempat berkumpul anak jalanan.
4. Mengadakan lomba membaca untuk anak jalanan
            Ini adalah hal yang menarik. Anak jalanan dibujuk untuk mau ikut lomba berpuisi, lomba menulis, lomba pidato antar sesama mereka. Penulis yakin mereka akan semangat mengikuti ini karena puisinya pasti puisi yang ditulis dari hati dan pengalaman yang mereka rasakan. Dengan ketulusan hati, mereka akan berpuisi, berpidato dan bercerita tentang kehidupan nyata mereka. Hasil karya mereka dapat dijadikan rujukan untuk menggali bakat dan minat mereka.
            Lapak buku untuk anak jalanan ini bukan hal mudah untuk dilakukan. Namun dengan memandang keberlangsungan kualitas manusia Sumatera Utara di masa depan, hal ini harus dilakukan. Bagaimanapun mereka adalah bagian dari masyrakat. Mereka harus mendapat kesempatan yang sama dengan anak lain. Dengan usaha ikhlas, mereka akan mau membaca. Peran dari semua pihaklah yang dapat menumbuhkan minat baca mereka. Tujuan akhirnya adalah mereka dapat kembali ke bangku sekolah dan meraih mimpi mereka. Lapak buku diharapkan dapat menjadi ikon Sumatra Utara sebagai provinsi literasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar