LAPAK
BACA UNTUK ANAK JALANAN
Anak jalanan adalah bagian dari generasi muda. Sebagai
bagian dari generasi muda, tentu anak jalanan harus dianggap sebagai aset yang
berpotensi untuk memajukan pembangungan di Indonesia. Keberadaan anak jalanan
di setiap persimpangan lampu merah, pusat pasar, koridor pertokoan dan tempat
keramaian lainnya selayaknya menjadi perhatian semua pihak. Harus disadari
bahwa keadaan mereka bukanlah kehendak mereka sendiri melainkan faktor sosial
ekonomi yang mengharuskan mereka bergelut dengan debu jalanan. Mengubah pola
hidup mereka tidak cukup dengan diskusi dan pidato saja. Harus ada cara
persuasif untuk mendekati mereka agar mau sekolah dan belajar. Salah satu cara
yang dapat dilakukan adalah menyediakan lapak baca untuk anak jalanan.
Lapak baca dapat diartikan sebagai tempat untuk membaca.
Anak jalanan dapat dipengaruhi cara berfikirnya dengan meyediakan bahan bacaan.
Dengan kondisi jiwa anak jalanan, tentu sulit untuk mengajak mereka sekolah
apalagi untuk berkunjung ke perpustakaan. Mendekatkan buku ke mereka adalah alternatif
untuk mengajak mereka membaca. Penyediaan buku-buku bertema fiksi atau komik
mungkin saja bisa mengundang ketertarikan mereka untuk membaca. Lapak baca
dapat didirikan di setiap tempat mereka berkumpul. Di Sumatra Utara, ini sama
sekali belum ada. Sumatra Utara akan menjadi provinsi literasi sebenarnya
dengan menerapkan lapak baca ini.
Keberadaan lapak baca memberikan alternatif kegiatan
penumbuhan minat baca pada generasi muda, khususnya anak jalanan. Gerakan
literasi atau gerakan membaca dan menulis selayaknya bukan hanya milik anak
yang berseragam sekolah melainkan juga buat mereka yang kurang beruntung untuk
merasakan pendidikan formal.
Selama ini, gerakan membaca hanya menyentuh anak yang
bersekolah saja. Perpusatakaan berkeliling dari sekolah ke sekolah saja. Tentu
ini merupakan juga langkah baik. Tetapi jika dilihat dari sasarannya, hanya
terbatas pada anak sekolah yang di sekolahnya juga sudah ada perpustakaan. Walaupun
bermanfaat bagi siswa, tetapi ini seperti pribahasa ‘menebar garam ke laut’. Menambah
rasa asin kepada sesuatu yang memang sudah asin. Sekali lagi, penulis
mengatakan bahwa perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah bukan tidak baik tapi
kurang terasa manfaatnya.
Keberadaan anak jalanan seharusnya dikelola dengan
mencerahkan pemikirian mereka. Cara efektifnya adalah dengan mendekatkan buku
kepada mereka. Menyediakan lapak buku di titik-titik kumpul anak jalanan adalah
solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswa. Semboyannya
harus berganti dari “Ayo ke perpustakaan”” menjadi “Perpustakaan ada
dimana-mana”. Tentu ini tidak hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan saja.
Semua pihak harus berperan aktif dalam menciptakan lapak baca di titik-titik
kumpul anak jalanan.
Langkah
Strategis
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan
lapak baca untuk anak jalanan.
1. Mobil perpustakaan keliling
di titik kumpul anak jalanan.
Seperti yang disampaikan sebelumnya, mobil perpustakaan
hanya berkeliling ke sekolah-sekolah saja. Kita akan menemukan pemandangan yang
sejuk dan cerdas jika mobil perpustakaan keliling di kerumuni oleh anak jalanan
untuk membaca. Setiap hari mobil perpustakaan dapat berkeliling di pusat pasar,
depan Mall, simpangan lampu merah dan
semua tempat yang biasa digunakan oleh anak jalanan.
2. Menyediakan buku yang
menarik
Anak jalanan bekerja untuk hidup. Kalimat ini penting
untuk mencari jenis buku yang sesuai dengan kondisi mereka. Misalnya, buku
tentang cara berdagang yang baik, buku tentang teknik bermain gitar atau alat
musik lain, buku tentang pola hidup sehat, cerita tentang orang-orang sukses.
Buku fiksi bergambar sejenis komik juga mungking menarik mereka untuk hiburan.
Buku-buku tersebut diyakini dapat bermanfaat langsung bagi kehidupan mereka
tanpa harus menggurui mereka karena biasanya mereka tidak suka digurui. Lama
kelamaan diharapkan mereka akan mencari buku lain yang bermanfaat bagi mereka.
Setelah mereka sudah cinta buku maka mereka akan mendatangi sekolah untuk
belajar.
3. Peran masyarakat
Sumbangan buku untuk anak jalanan juga sangat membantu
anak jalanan untuk berkesempatan membaca buku. Dengan mahalnya harga buku,
sumbangan buku dapat memberi vitamin fikir kepada anak jalanan. Masyarakat
dapat mendirikan lapak buku di tempat berkumpul anak jalanan.
4. Mengadakan lomba membaca
untuk anak jalanan
Ini adalah hal yang menarik. Anak jalanan dibujuk untuk
mau ikut lomba berpuisi, lomba menulis, lomba pidato antar sesama mereka.
Penulis yakin mereka akan semangat mengikuti ini karena puisinya pasti puisi
yang ditulis dari hati dan pengalaman yang mereka rasakan. Dengan ketulusan
hati, mereka akan berpuisi, berpidato dan bercerita tentang kehidupan nyata
mereka. Hasil karya mereka dapat dijadikan rujukan untuk menggali bakat dan
minat mereka.
Lapak buku untuk anak jalanan ini bukan hal mudah untuk
dilakukan. Namun dengan memandang keberlangsungan kualitas manusia Sumatera
Utara di masa depan, hal ini harus dilakukan. Bagaimanapun mereka adalah bagian
dari masyrakat. Mereka harus mendapat kesempatan yang sama dengan anak lain.
Dengan usaha ikhlas, mereka akan mau membaca. Peran dari semua pihaklah yang
dapat menumbuhkan minat baca mereka. Tujuan akhirnya adalah mereka dapat
kembali ke bangku sekolah dan meraih mimpi mereka. Lapak buku diharapkan dapat
menjadi ikon Sumatra Utara sebagai provinsi literasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar