Selasa, 23 April 2019

Sekolah Baru

Sekolah Baru

          Suara azan di masjid dekat rumah membangunkanku. Aku bergegas bangun dan keluar dari kamar. Badanku terasa tidak nyaman. Udara di kota Medan sangat panas. Berbeda sekali dengan di kampungku yang dingin dan tidak bising. Kulihat Umak yang sedang sibuk di dapur.
          “Sudah bangun kau, Suma?” tanya Umak sambil membolak-balik masakan.
          “Sudah, Mak. Tak nyenyak aku tidur tadi malam, Mak. Panas kali kota Medan ini.” Sahutku sambil menuang air putih dari ceret kaleng bercorak bunga yang dibawa Umak dari kampung.
          “Awal-awalnya itu, Suma. Lama-lama dah terbiasanya kau nanti,” kata Umak sambil tersenyum menoleh ke arahku.
          “Mandilah kau dulu, setelah mandi shalat subuh.” perintah Umak.
          “Tak ada sungai di sini, Mak?” tanyaku.
          “Ada, tapi tak ada orang yang mandi di sungai karena sungai di sini sudah tercemar.”
          “Kenapa tercemar, Mak?” lanjutku.
          “Ah, tak tahulah aku, Suma. Cepatlah kau mandi di kamar mandi. Siap mandi, shalat subuh kau, lalu sarapan. Jangan sampai kau terlambat sekolah. Inikan hari pertamamu di sekolah yang baru.” jawab Umak mulai bosan dengan pertanyaanku yang seperti wartawan saja.
          Tanpa bertanya lagi, aku pun bergegas mengerjakan perintah Umak. Seperti seorang prajurit, aku mengerjakan tiga perintah Umak itu dalam waktu dua puluh menit. Ayah selalu bilang kalau anak laki-laki tidak boleh lambat kerjanya. Semuanya harus dikerjakan dengan cepat dan tepat.
          Setelah menyantap sarapan nasi goreng kampung masakan Umak, aku berangkat ke sekolah. Karena masih hari pertama, Umak mengantarkanku ke sekolah. Sambil menggendong adikku, Umak menggandengku berjalan menuju sekolah baruku. Sepanjang jalan fikiranku bercampur aduk. Ada senang, ada juga takut. Senang karena ini hari pertamaku sekolah di kota besar, takut karena aku belum punya satupun kawan di sekolah baruku. Mataku berkeliaran melihat sekitar. Kulihat ada anak sekolah yang diantar ibunya naik sepeda motor dan ada juga yang berhimpitan di dalam becak. Sepeda motor dan mobil lalu lalang membuat suara bising di telingaku. Semua kelihatan terburu-buru. Bau asap yang keluar dari knalpot kendaraan menghujam lubang hidungku. Tak ada anak-anak yang bernyanyi sambil lomba lari beramai-ramai seperti di kampungku. Pak polisi juga kelihatan sibuk mengatur jalanan dan membantu menyebrangkan anak sekolah. Sekolah baruku berada tepat di pinggir jalan raya. Kata umakku nama jalannya Sisingamangaraja.
          “Selamat pagi, Bu.” sapa Umak kepada seorang guru yang sedang berdiri di meja piket dekat gerbang sekolah.
          “Selamat pagi juga, Bu. Ada yang bisa saya bantu, Bu.” sahut guru tersebut dengan logat batak Toba yang ketara. Aku kenal sekali logat itu karena tetangga sebelah rumahku di kampung ada yang bersuku batak Toba.
          “Begini, Bu, seminggu lalu, suami saya sudah mendaftarkan anak saya untuk sekolah di sini. Anak saya pindahan dari Kotanopan, Mandailing Natal. Kata suami saya hari ini anak saya sudah bisa mulai sekolah, Bu.” jelas Umak dengan agak gugup dan badan yang sedikit dibungkukkan.
          “Oh, mari masuk ke kantor dulu, Bu,” ajak guru tersebut dengan ramah. Mantap kakinya melangkah ke arah kantor. Langkah kakinya menunjukkan kewibawaan. Bunyi sepatunya terdengar teratur dan berirama.
          “Silakan duduk, Bu. Perkenalkan nama saya Bu Sitorus. Saya guru kelas V. Hari Sabtu lalu, saya sudah diberitahu kepala sekolah bahwa akan ada siswa baru.” jelas guru yang bernama Bu Sitorus.
          Ternyata di Medan sama seperti di kampungku. Di kampungku, tak ada satupun siswa yang tahu nama lengkap gurunya. Kami hanya mengenal Bu Lubis, Bu Nasution, Bu Pulungan, Bu Harahap, Pak Pasaribu, Pak Siregar dan guru lainnya. Kami hanya tahu marganya saja. Ada juga guru kami yang bersuku Jawa. Karena tidak bermarga kami hanya tahu insial namanya saja. Kami memanggilnya Bu DL. Entah apa kepanjangan DL itu, sampai sekarang aku sendiri tak tahu. Dan kenapa tak diberitahu nama lengkapnya, aku juga tidak tahu. Aku menduga kalau panggilan itu sebagai bentuk penghormatan kepada guru.
          “Siapa namamu?” tanya Bu Sitorus.
          “Nama saya Ali Suma Pasaribu, Bu,” jawabku sambil menyalam dan mencium tangan Bu Sitorus.
          “Bah, pasaribu darimana kau, Suma?” tanyanya penuh semangat. “Suami ibu juga marga pasaribu.” lanjutnya.
          Aku terpelongo mendengar pertanyaan Bu Sitorus. Aku sama sekali tak tahu tarombo asal usul margaku. Yang aku tahu, marga pasaribu menempel di namaku karena ayahku juga bermarga pasaribu. Aku menoleh ke arah Umak berharap Umak bisa membantu menjawab pertanyaan yang diajukan Bu Sitorus.
          “Pasaribu bondar dia, Bu.” sela umakku seolah mengerti kalau anaknya sedang kebingungan. “Tapi ayah Suma tidak lahir di Tapanuli Utara, Bu. Ayahnya lahir di Pasar Matanggor, Gunung Tua, Tapanuli Selatan.” Umak menambahkan.
          “Oh, sama-sama pasaribu bondarlah, sama dengan suami saya.” timpal Bu Sitorus.
          Aku hanya terdiam melihat mereka berdua martarombo. Betul juga kata Ayah, kalau orang batak sudah cerita marga, bisa satu malam suntuk tahan bercerita. Ayah juga pernah bilang Sinungkun marga, asa binoto partuturan. Dahulukan tanya marga, supaya tahu sapaannya. Kalimat ini yang mungkin jadi pedoman orang Batak untuk saling bertutur sapa. Ayah juga pernah bilang kalau saudara itu tidak harus sedarah.
          Kring.... Kring.... Kring. Jam pelajaran pertama akan dimulai lima menit lagi. Seluruh siswa diharapkan berbaris di depan kelas dan masuk kelas dengan tertib.
          Terdengar suara dari pengeras suara. Ternyata itu adalah bel sekolah yang sudah diprogram dengan suara otomatis. Aku semakin takjub dengan sekolah di kota. Semuanya sudah serba otomatis. Kalau sekolah di kampungku, guru piket akan memukul besi bulat yang tergantung di depan ruang guru dengan martil. Kalau bunyinya terdengar tiga kali di pagi hari tandanya waktu belajar dimulai, kalau loncengnya dipukul dua kali tandanya istirahat, kalau dipukul tiga kali di siang hari tandanya waktu belajar telah selesai. Lonceng ketiga inilah yang paling ditunggu seluruh siswa di kampungku.
          “Baik, Bu, sudah waktunya masuk kelas. Ibu sudah boleh pulang. Biar nanti Suma, saya yang antar ke kelas. Nanti ibu boleh jemput lagi jam 12.30.” kata Bu Sitorus kepada Umak.
          Umak mengelus-elus kepalaku dan mencium keningku. Tak lupa dibisikkannya sebaris pesan dengan lembut di telingaku. “Burju-burju maho namarsikkolai da amang .“ Pesan Umak. Aku mengangguk sambil menyalam dan mencium tangan Umak.
          Saat yang kutakutkan pun tiba. Bu Sitorus mengajakku masuk ke dalam kelas. Jantungku berdetak kencang saat melangkahkan kaki melewati pintu kelas. Kulihat semua siswa berbisik-bisik dengan kawan sebangkunya. Semua mata mengarah kepadaku. Memandangku teliti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lututku mulai bergetar seolah tak mampu menahan bobot tubuhku yang sebenarnya tidak gemuk. Kulawan rasa grogi yang melanda. Aku bersikap pura-pura tenang. Pelan-pelan kulebarkan bibirku dan kutatap satu persatu siswa dari mulai sudut kiri ruangan.
          “Anak-anak, hari ini kalian dapat kawan baru.” kata Bu Sitorus sehabis menyapa siswa di kelas itu.
          “Ayo Suma, perkenalkan dirimu kepada kawan-kawan barumu di kelas ini.” pinta Bu Sitorus dengan tegas.
          “Selamat pagi, teman-teman. Perkenalkan namaku Ali Suma Pasaribu. Kalian bisa memanggilku Suma. Aku berasal dari desa Tombang Bustak, kecamatan Kotanopan, kabupaten Mandailing Natal.”
          “Ketara kali batakmu.” celetuk seorang siswa disambut dengan suara tawa serentak seperti paduan suara tanpa dirijen. Aku sudah menduga, dialekku pasti akan menjadi olok-olokan.
          “Tenang.... Semua tenang” Bu Sitorus mengambil alih kelas.
          “Kalian tidak boleh menertawakan cara bicaranya. Kita harus saling menghargai perbedaan suku yang ada di Indonesia. Mengejek cara berbicara suku lain sama saja dengan mengejek suku tersebut”, lanjutnya dengan wajah yang tampak sabar.
          “Suma, kamu boleh duduk di bangku kosong itu.” perintahnya sambil menunjuk ke arah bangku kosong yang di sebelahnya duduk siswa yang menyeletuk saat aku mempenalkan diri.
          “Halo, namaku Jhon Elden Situngkir, kau panggil saja aku Jhon.” sapa teman sebangkuku.          
          “Kau jangan marah ya, Suma. Aku Cuma bercandanya tadi. Aku juga orang Batak. Tapi aku sudah sejak lahir tinggal di Medan. Ayah dan mamakku pun lahirnya di Medan juga.” Tambah Jhon sambil menepuk-nepuk bahuku.
          “Gak apa-apa Jhon. Aku gak marah kok.” sahutku sambil tersenyum.
          Bu Sitorus memulai pembelajaran. Dia menampikan video seorang anak yang sedang berpuisi dengan alat yang aku tak tahu namya. Di kampungku belum pernah guru mengajar menggunakan alat itu.
          “Apa nama alat itu Jhon?” tanyaku keheranan.
          “Itu namanya LCD Projector, Suma. Kalau disini semua guru mengajar pakai alat itu. Mereka tinggal bawa laptop saja. Lalu menghubungkan laptopnya ke alat itu.
          “Anak-anak, hari ini kita akan belajar menulis dan membaca puisi. Kalian perhatikan video yang ibu tayangkan. Setelah itu kalian ibu minta untuk memberi tanggapan tentang puisi itu. Kalian mengerjakannya dalam kelompok. ibu akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok kecil. Satu kelompok terdiri atas empat orang.” jelas Bu Sitorus.
          Aku satu kelompok dengan Jhon, Satrio dan Brenda. Kami berempat dan semua kelompok lainnya asyik mengamati puisi yang dibacakan oleh seorang siswa SD juga. Judul puisinya “Ibuku Dahulu” karya Amir Hamzah. Pandai sekali anak itu membacakan puisi itu. Seisi kelas terdiam mendengar suara lantang anak itu. Kata-katanya jelas dan menusuk-nusuk ke hati. Terbayang olehku wajah Umak yang amat sabar mendidikku walau kadang-kadang aku nakal. Aku sering bersungut ketika disuruh Umak untuk sekedar mencuci piring bekas makanku. Wajah Umak seperti tepat berada di pelupuk mataku. Tersenyum kepadaku dan mengelus lembut kepalaku. Tak terasa air mataku menetes. Kulihat ke sebelahku. Jhon menutup wajahnya di atas kedua tangannya yang terlipat. Tak ada suara tangis terdengar, hanya bahunya yang bergoyang naik turun seperti orang yang sedang menahan tangis. Aku membatin kenapa Jhon sampai sesedih ini mendengar puisi itu. Sementara Satrio dan Brenda biasa saja melihat tayangan video dengan wajah datar.
          Setelah selesai menonton pembaca puisi itu, Bu Sitorus meminta kami untuk menulis tanggapan tentang puisi itu dan menuliskan puisi dengan tema “Ibu”. Masing-masing kelompok sibuk mengerjakan tugas yang diberikan Bu Sitorus.
          Setelah setengah jam berdiskusi, satu per satu kelompok memaparkan hasil diskusi mereka di depan kelas. Semua siswa sangat senang dan bersemangat menampilkan hasil diskusinya. Belum sampai pada tahapan menulis puisi, bel pulang berbunyi dan dengan sorak sorai bahagia semua siswa berhamburan ke luar kelas sambil menyalam Bu Sitorus yang berdiri di depan pintu kelas.

Selamat Tinggal Sungai Batang Gadis

    Bus Antar Lintas Sumatera yang kutumpangi meliuk-liuk di jalan berkelok. Sorot lampunya memecah gelapnya malam seperti kapal yang memecah ombak lautan. Aku duduk tepat di belakang bangku supir sehingga dapat melihat jelas barisan pepohonan di kiri kanan jalan seolah memberi hormat pada bus yang melintas. Supir bus sangat gesit membelokkan stir menyesuaikan badan bus yang besar dengan tikungan jalan. Kuperhatikan sepasang kaki pak supir yang bergantian menginjak pedal gas, rem dan kopling. Kagum aku pada gerakan tangan, kaki dan fokus mata pak supir. Tangan, kaki dan matanya bekerja sama menggerakkan roda-roda bus di jalan sepi.
          Alunan lagu Mandailing berjudul Bue Bue melantun merdu. Sesekali bibirku bergerak dan mengeluarkan suara mengikuti lirik lagunya. Aku sangat hafal lagu itu. Lagu itu bagaikan lagu wajib yang dinyanyikan Umak di telingaku menjelang tidur. Suara lembut dan usapan tangan Umak di kepalaku membuat lirik lagu itu tertanam kokoh di fikiranku. Kulihat di sampingku, Umak tertidur pulas sambil memangku adikku yang baru berumur dua tahun.
       “Inda pe modom ho, Suma?” Suara supir terdengar dari depan menghentikan gerakan bibirku untuk bernyanyi.
         “Belum ngantuk aku, Yah.”  sahutku agak malas.
         Ya. Supir bus itu adalah ayahku. Sejak masih lajang, Ayah sudah bekerja di bus. Ayah tidak langsung jadi supir. Umak pernah bercerita kalau sebelum jadi supir, Ayah pernah menjadi kernet. Baru waktu aku berusia tiga tahun, Ayah naik pangkat menjadi supir. Dan sekarang Ayah sudah menjadi cincu. Aku tak tahu persis apa itu cincu. Yang aku tahu, Ayah sekarang bertanggung jawab penuh dengan bus yang dibawanya dan karena itu pula kami harus pindah ke kota Medan.
    Sebenarnya   aku senang pindah ke Medan. Di Medan, aku dapat melihat gedung-gedung tinggi dan bisa jalan-jalan ke mall kapan saja. Aku dengar cerita Ayah kalau Medan itu kota besar nomor tiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Cerita Ayah itu yang meyakinkanku untuk mau pindah ke Medan, walaupun aku masih belum sepenuhnya yakin meninggalkan desa tempat aku dilahirkan. Desa Tombang Bustak namanya. Nama desaku ini sering disebut orang dengan sebutan kuala lumpur. Bukan karena mirip dengan kota Kuala Lumpur di Malaysia, melainkan karena arti kata dari nama desaku. Dalam bahasa Mandailing tombang artinya tambang dan bustak berarti lumpur.
     Bus terus melaju kencang. Sesekali terdengar suara klakson memecah kesunyian malam dan seisi bus yang khusuk bermain dengan mimpi masing-masing. Mataku sama sekali tak bisa kupejamkan. Aku masih saja mengenang masa-masa menyenangkan di kampungku.
          Terbayang aku pancur paridian tempat aku dan kawan-kawanku mengisi waktu pagi dan sore hari dengan seperangkat alat mandi. Pancuran itu terletak tepat di belakang masjid. Letaknya berada di aliran sungai Batang Gadis yang gagah mengalir dengan derasnya. Di tempat pemandian ini, kami belajar berenang tanpa guru renang. Menyebrang sungai bersama. Terkadang kami menggandeng beberapa batang pisang untuk dijadikan sampan yang kami naiki dari hulu ke hilir. Dari pinggir sungai ini pula kami acap menikmati indahnya pemandangan bukit barisan. Hawa dingin sudah menjadi sahabat kami setiap pagi.
          Terlintas juga di pelupuk mataku, hamparan sawah di belakang rumah kami. Setiap pagi kami melintasi pematang sawah untuk pergi sekolah. Berjalan, berlari kecil, dan saling mendorong adalah kebiasaan usil kami sehari-hari. Sehabis musim panen, kami menghabiskan waktu sore untuk mencari belut. Banyak sekali belut di sawah yang baru saja siap dipanen.
          “Tengok dulu bannya,” suara Ayah mengejutkanku dan penumpang lainnya. Ternyata Ayah sedang memberikan perintah kepada kernetnya setelah bus berhenti di pinggir jalan.
          “Bannya bocor, Tulang,” teriak seorang kernet tergopoh-gopoh.
          “Ya, sudah. Cepat ambil ban serapnya di belakang!” kembali Ayah memberi perintah untuk dua kernetnya.
          Dengan izin Ayah, aku turun untuk melihat kernet bekerja. Di tengah kegelapan malam, dua kernet Ayah dengan sigap memutar baut-baut roda bus. Mereka sangat trampil. Tak ada rasa kantuk terlihat di raut wajah mereka. Dinginnya malam tak jadi persoalan bagi mereka. Dalam waktu lima menit ban yang bocor sudah berganti dengan ban serap dan bus siap melaju kembali.
          Aku sangat terkesan dengan beratnya kerja armada bus. Kapan saja dan dimana saja mereka harus siap. Kondisi bus tidak dapat diduga-duga. Walaupun sebelum berangkat keadaan bus sudah diperiksa, tetapi dalam perjalanan apa pun bisa saja terjadi.
          Aku memandangi Ayah dari belakang. Betapa berat pekerjaan yang dilakoninya. Matanya tahan tak terpejam sepanjang malam hanya untuk menghidupi kami sekeluarga dan mengumpulkan uang untuk biaya sekolahku. Ayah tak pernah mengeluh.
          Trayek yang ditempuh Ayah adalah Medan-Jakarta. Sekali berangkat Ayah akan berada di jalan selama tiga hari dua malam. Karena itu, kami hanya bertemu Ayah paling cepat delapan hari sekali. Kalau kami tetap tinggal di Kotanopan, Ayah hanya singgah saja di rumah kami barang beberapa menit untuk meninggalkan uang belanja kepada Umak. Sebulan sekali baru Ayah akan berada di rumah selama dua hari. Karena itulah, Ayah mengajak kami sekeluarga pindah ke Medan. Ayah ingin setiap pulang trip dapat berlama-lama dengan kami. Ayah juga ingin aku mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Roda bus terus berputar. Sampai akhirnya pagi hari kami sampai di kota Medan.