Sekolah
Baru
Suara
azan di masjid dekat rumah membangunkanku. Aku bergegas bangun dan keluar dari
kamar. Badanku terasa tidak nyaman. Udara di kota Medan sangat panas. Berbeda
sekali dengan di kampungku yang dingin dan tidak bising. Kulihat Umak yang
sedang sibuk di dapur.
“Sudah
bangun kau, Suma?” tanya Umak sambil membolak-balik masakan.
“Sudah,
Mak. Tak nyenyak aku tidur tadi malam, Mak. Panas kali kota Medan ini.” Sahutku
sambil menuang air putih dari ceret kaleng bercorak bunga yang dibawa Umak dari
kampung.
“Awal-awalnya
itu, Suma. Lama-lama dah terbiasanya kau nanti,” kata Umak sambil tersenyum
menoleh ke arahku.
“Mandilah
kau dulu, setelah mandi shalat subuh.” perintah Umak.
“Tak
ada sungai di sini, Mak?” tanyaku.
“Ada,
tapi tak ada orang yang mandi di sungai karena sungai di sini sudah tercemar.”
“Kenapa
tercemar, Mak?” lanjutku.
“Ah,
tak tahulah aku, Suma. Cepatlah kau mandi di kamar mandi. Siap mandi, shalat
subuh kau, lalu sarapan. Jangan sampai kau terlambat sekolah. Inikan hari pertamamu
di sekolah yang baru.” jawab Umak mulai bosan dengan pertanyaanku yang seperti
wartawan saja.
Tanpa
bertanya lagi, aku pun bergegas mengerjakan perintah Umak. Seperti seorang
prajurit, aku mengerjakan tiga perintah Umak itu dalam waktu dua puluh menit.
Ayah selalu bilang kalau anak laki-laki tidak boleh lambat kerjanya. Semuanya
harus dikerjakan dengan cepat dan tepat.
Setelah
menyantap sarapan nasi goreng kampung masakan Umak, aku berangkat ke sekolah.
Karena masih hari pertama, Umak mengantarkanku ke sekolah. Sambil menggendong
adikku, Umak menggandengku berjalan menuju sekolah baruku. Sepanjang jalan
fikiranku bercampur aduk. Ada senang, ada juga takut. Senang karena ini hari
pertamaku sekolah di kota besar, takut karena aku belum punya satupun kawan di
sekolah baruku. Mataku berkeliaran melihat sekitar. Kulihat ada anak sekolah
yang diantar ibunya naik sepeda motor dan ada juga yang berhimpitan di dalam
becak. Sepeda motor dan mobil lalu lalang membuat suara bising di telingaku.
Semua kelihatan terburu-buru. Bau asap yang keluar dari knalpot kendaraan
menghujam lubang hidungku. Tak ada anak-anak yang bernyanyi sambil lomba lari
beramai-ramai seperti di kampungku. Pak polisi juga kelihatan sibuk mengatur
jalanan dan membantu menyebrangkan anak sekolah. Sekolah baruku berada tepat di
pinggir jalan raya. Kata umakku nama jalannya Sisingamangaraja.
“Selamat
pagi, Bu.” sapa Umak kepada seorang guru yang sedang berdiri di meja piket
dekat gerbang sekolah.
“Selamat
pagi juga, Bu. Ada yang bisa saya bantu, Bu.” sahut guru tersebut dengan logat
batak Toba yang ketara. Aku kenal sekali logat itu karena tetangga sebelah
rumahku di kampung ada yang bersuku batak Toba.
“Begini,
Bu, seminggu lalu, suami saya sudah mendaftarkan anak saya untuk sekolah di
sini. Anak saya pindahan dari Kotanopan, Mandailing Natal. Kata suami saya hari
ini anak saya sudah bisa mulai sekolah, Bu.” jelas Umak dengan agak gugup dan
badan yang sedikit dibungkukkan.
“Oh,
mari masuk ke kantor dulu, Bu,” ajak guru tersebut dengan ramah. Mantap kakinya
melangkah ke arah kantor. Langkah kakinya menunjukkan kewibawaan. Bunyi
sepatunya terdengar teratur dan berirama.
“Silakan
duduk, Bu. Perkenalkan nama saya Bu Sitorus. Saya guru kelas V. Hari Sabtu
lalu, saya sudah diberitahu kepala sekolah bahwa akan ada siswa baru.” jelas
guru yang bernama Bu Sitorus.
Ternyata
di Medan sama seperti di kampungku. Di kampungku, tak ada satupun siswa yang
tahu nama lengkap gurunya. Kami hanya mengenal Bu Lubis, Bu Nasution, Bu Pulungan,
Bu Harahap, Pak Pasaribu, Pak Siregar dan guru lainnya. Kami hanya tahu
marganya saja. Ada juga guru kami yang bersuku Jawa. Karena tidak bermarga kami
hanya tahu insial namanya saja. Kami memanggilnya Bu DL. Entah apa kepanjangan
DL itu, sampai sekarang aku sendiri tak tahu. Dan kenapa tak diberitahu nama
lengkapnya, aku juga tidak tahu. Aku menduga kalau panggilan itu sebagai bentuk
penghormatan kepada guru.
“Siapa
namamu?” tanya Bu Sitorus.
“Nama
saya Ali Suma Pasaribu, Bu,” jawabku sambil menyalam dan mencium tangan Bu
Sitorus.
“Bah,
pasaribu darimana kau, Suma?” tanyanya penuh semangat. “Suami ibu juga marga
pasaribu.” lanjutnya.
Aku
terpelongo mendengar pertanyaan Bu Sitorus. Aku sama sekali tak tahu tarombo asal usul margaku. Yang aku tahu,
marga pasaribu menempel di namaku karena ayahku juga bermarga pasaribu. Aku menoleh
ke arah Umak berharap Umak bisa membantu menjawab pertanyaan yang diajukan Bu
Sitorus.
“Pasaribu
bondar dia, Bu.” sela umakku seolah mengerti kalau anaknya sedang kebingungan. “Tapi
ayah Suma tidak lahir di Tapanuli Utara, Bu. Ayahnya lahir di Pasar Matanggor, Gunung
Tua, Tapanuli Selatan.” Umak menambahkan.
“Oh,
sama-sama pasaribu bondarlah, sama dengan suami saya.” timpal Bu Sitorus.
Aku
hanya terdiam melihat mereka berdua martarombo.
Betul juga kata Ayah, kalau orang batak sudah cerita marga, bisa satu malam
suntuk tahan bercerita. Ayah juga pernah bilang Sinungkun marga, asa binoto partuturan. Dahulukan tanya marga, supaya
tahu sapaannya. Kalimat ini yang mungkin jadi pedoman orang Batak untuk saling
bertutur sapa. Ayah juga pernah bilang kalau saudara itu tidak harus sedarah.
Kring....
Kring.... Kring. Jam pelajaran pertama
akan dimulai lima menit lagi. Seluruh siswa diharapkan berbaris di depan kelas
dan masuk kelas dengan tertib.
Terdengar
suara dari pengeras suara. Ternyata itu adalah bel sekolah yang sudah diprogram
dengan suara otomatis. Aku semakin takjub dengan sekolah di kota. Semuanya
sudah serba otomatis. Kalau sekolah di kampungku, guru piket akan memukul besi
bulat yang tergantung di depan ruang guru dengan martil. Kalau bunyinya
terdengar tiga kali di pagi hari tandanya waktu belajar dimulai, kalau
loncengnya dipukul dua kali tandanya istirahat, kalau dipukul tiga kali di
siang hari tandanya waktu belajar telah selesai. Lonceng ketiga inilah yang
paling ditunggu seluruh siswa di kampungku.
“Baik,
Bu, sudah waktunya masuk kelas. Ibu sudah boleh pulang. Biar nanti Suma, saya
yang antar ke kelas. Nanti ibu boleh jemput lagi jam 12.30.” kata Bu Sitorus
kepada Umak.
Umak
mengelus-elus kepalaku dan mencium keningku. Tak lupa dibisikkannya sebaris
pesan dengan lembut di telingaku. “Burju-burju
maho namarsikkolai da amang .“ Pesan Umak. Aku mengangguk sambil menyalam
dan mencium tangan Umak.
Saat
yang kutakutkan pun tiba. Bu Sitorus mengajakku masuk ke dalam kelas. Jantungku
berdetak kencang saat melangkahkan kaki melewati pintu kelas. Kulihat semua siswa
berbisik-bisik dengan kawan sebangkunya. Semua mata mengarah kepadaku.
Memandangku teliti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lututku mulai bergetar
seolah tak mampu menahan bobot tubuhku yang sebenarnya tidak gemuk. Kulawan
rasa grogi yang melanda. Aku bersikap pura-pura tenang. Pelan-pelan kulebarkan
bibirku dan kutatap satu persatu siswa dari mulai sudut kiri ruangan.
“Anak-anak,
hari ini kalian dapat kawan baru.” kata Bu Sitorus sehabis menyapa siswa di
kelas itu.
“Ayo
Suma, perkenalkan dirimu kepada kawan-kawan barumu di kelas ini.” pinta Bu Sitorus
dengan tegas.
“Selamat
pagi, teman-teman. Perkenalkan namaku Ali Suma Pasaribu. Kalian bisa
memanggilku Suma. Aku berasal dari desa Tombang Bustak, kecamatan Kotanopan,
kabupaten Mandailing Natal.”
“Ketara
kali batakmu.” celetuk seorang siswa disambut dengan suara tawa serentak
seperti paduan suara tanpa dirijen. Aku sudah menduga, dialekku pasti akan
menjadi olok-olokan.
“Tenang....
Semua tenang” Bu Sitorus mengambil alih kelas.
“Kalian
tidak boleh menertawakan cara bicaranya. Kita harus saling menghargai perbedaan
suku yang ada di Indonesia. Mengejek cara berbicara suku lain sama saja dengan
mengejek suku tersebut”, lanjutnya dengan wajah yang tampak sabar.
“Suma,
kamu boleh duduk di bangku kosong itu.” perintahnya sambil menunjuk ke arah
bangku kosong yang di sebelahnya duduk siswa yang menyeletuk saat aku
mempenalkan diri.
“Halo,
namaku Jhon Elden Situngkir, kau panggil saja aku Jhon.” sapa teman sebangkuku.
“Kau
jangan marah ya, Suma. Aku Cuma bercandanya tadi. Aku juga orang Batak. Tapi
aku sudah sejak lahir tinggal di Medan. Ayah dan mamakku pun lahirnya di Medan
juga.” Tambah Jhon sambil menepuk-nepuk bahuku.
“Gak
apa-apa Jhon. Aku gak marah kok.” sahutku sambil tersenyum.
Bu
Sitorus memulai pembelajaran. Dia menampikan video seorang anak yang sedang
berpuisi dengan alat yang aku tak tahu namya. Di kampungku belum pernah guru
mengajar menggunakan alat itu.
“Apa
nama alat itu Jhon?” tanyaku keheranan.
“Itu
namanya LCD Projector, Suma. Kalau
disini semua guru mengajar pakai alat itu. Mereka tinggal bawa laptop saja.
Lalu menghubungkan laptopnya ke alat itu.
“Anak-anak,
hari ini kita akan belajar menulis dan membaca puisi. Kalian perhatikan video
yang ibu tayangkan. Setelah itu kalian ibu minta untuk memberi tanggapan
tentang puisi itu. Kalian mengerjakannya dalam kelompok. ibu akan membagi
kalian menjadi beberapa kelompok kecil. Satu kelompok terdiri atas empat
orang.” jelas Bu Sitorus.
Aku
satu kelompok dengan Jhon, Satrio dan Brenda. Kami berempat dan semua kelompok
lainnya asyik mengamati puisi yang dibacakan oleh seorang siswa SD juga. Judul
puisinya “Ibuku Dahulu” karya Amir Hamzah. Pandai sekali anak itu membacakan
puisi itu. Seisi kelas terdiam mendengar suara lantang anak itu. Kata-katanya
jelas dan menusuk-nusuk ke hati. Terbayang olehku wajah Umak yang amat sabar
mendidikku walau kadang-kadang aku nakal. Aku sering bersungut ketika disuruh Umak
untuk sekedar mencuci piring bekas makanku. Wajah Umak seperti tepat berada di
pelupuk mataku. Tersenyum kepadaku dan mengelus lembut kepalaku. Tak terasa air
mataku menetes. Kulihat ke sebelahku. Jhon menutup wajahnya di atas kedua
tangannya yang terlipat. Tak ada suara tangis terdengar, hanya bahunya yang
bergoyang naik turun seperti orang yang sedang menahan tangis. Aku membatin
kenapa Jhon sampai sesedih ini mendengar puisi itu. Sementara Satrio dan Brenda
biasa saja melihat tayangan video dengan wajah datar.
Setelah
selesai menonton pembaca puisi itu, Bu Sitorus meminta kami untuk menulis
tanggapan tentang puisi itu dan menuliskan puisi dengan tema “Ibu”.
Masing-masing kelompok sibuk mengerjakan tugas yang diberikan Bu Sitorus.
Setelah setengah jam berdiskusi, satu per satu kelompok
memaparkan hasil diskusi mereka di depan kelas. Semua siswa sangat senang dan
bersemangat menampilkan hasil diskusinya. Belum sampai pada tahapan menulis
puisi, bel pulang berbunyi dan dengan sorak sorai bahagia semua siswa
berhamburan ke luar kelas sambil menyalam Bu Sitorus yang berdiri di depan
pintu kelas.