Selasa, 23 April 2019

Selamat Tinggal Sungai Batang Gadis

    Bus Antar Lintas Sumatera yang kutumpangi meliuk-liuk di jalan berkelok. Sorot lampunya memecah gelapnya malam seperti kapal yang memecah ombak lautan. Aku duduk tepat di belakang bangku supir sehingga dapat melihat jelas barisan pepohonan di kiri kanan jalan seolah memberi hormat pada bus yang melintas. Supir bus sangat gesit membelokkan stir menyesuaikan badan bus yang besar dengan tikungan jalan. Kuperhatikan sepasang kaki pak supir yang bergantian menginjak pedal gas, rem dan kopling. Kagum aku pada gerakan tangan, kaki dan fokus mata pak supir. Tangan, kaki dan matanya bekerja sama menggerakkan roda-roda bus di jalan sepi.
          Alunan lagu Mandailing berjudul Bue Bue melantun merdu. Sesekali bibirku bergerak dan mengeluarkan suara mengikuti lirik lagunya. Aku sangat hafal lagu itu. Lagu itu bagaikan lagu wajib yang dinyanyikan Umak di telingaku menjelang tidur. Suara lembut dan usapan tangan Umak di kepalaku membuat lirik lagu itu tertanam kokoh di fikiranku. Kulihat di sampingku, Umak tertidur pulas sambil memangku adikku yang baru berumur dua tahun.
       “Inda pe modom ho, Suma?” Suara supir terdengar dari depan menghentikan gerakan bibirku untuk bernyanyi.
         “Belum ngantuk aku, Yah.”  sahutku agak malas.
         Ya. Supir bus itu adalah ayahku. Sejak masih lajang, Ayah sudah bekerja di bus. Ayah tidak langsung jadi supir. Umak pernah bercerita kalau sebelum jadi supir, Ayah pernah menjadi kernet. Baru waktu aku berusia tiga tahun, Ayah naik pangkat menjadi supir. Dan sekarang Ayah sudah menjadi cincu. Aku tak tahu persis apa itu cincu. Yang aku tahu, Ayah sekarang bertanggung jawab penuh dengan bus yang dibawanya dan karena itu pula kami harus pindah ke kota Medan.
    Sebenarnya   aku senang pindah ke Medan. Di Medan, aku dapat melihat gedung-gedung tinggi dan bisa jalan-jalan ke mall kapan saja. Aku dengar cerita Ayah kalau Medan itu kota besar nomor tiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Cerita Ayah itu yang meyakinkanku untuk mau pindah ke Medan, walaupun aku masih belum sepenuhnya yakin meninggalkan desa tempat aku dilahirkan. Desa Tombang Bustak namanya. Nama desaku ini sering disebut orang dengan sebutan kuala lumpur. Bukan karena mirip dengan kota Kuala Lumpur di Malaysia, melainkan karena arti kata dari nama desaku. Dalam bahasa Mandailing tombang artinya tambang dan bustak berarti lumpur.
     Bus terus melaju kencang. Sesekali terdengar suara klakson memecah kesunyian malam dan seisi bus yang khusuk bermain dengan mimpi masing-masing. Mataku sama sekali tak bisa kupejamkan. Aku masih saja mengenang masa-masa menyenangkan di kampungku.
          Terbayang aku pancur paridian tempat aku dan kawan-kawanku mengisi waktu pagi dan sore hari dengan seperangkat alat mandi. Pancuran itu terletak tepat di belakang masjid. Letaknya berada di aliran sungai Batang Gadis yang gagah mengalir dengan derasnya. Di tempat pemandian ini, kami belajar berenang tanpa guru renang. Menyebrang sungai bersama. Terkadang kami menggandeng beberapa batang pisang untuk dijadikan sampan yang kami naiki dari hulu ke hilir. Dari pinggir sungai ini pula kami acap menikmati indahnya pemandangan bukit barisan. Hawa dingin sudah menjadi sahabat kami setiap pagi.
          Terlintas juga di pelupuk mataku, hamparan sawah di belakang rumah kami. Setiap pagi kami melintasi pematang sawah untuk pergi sekolah. Berjalan, berlari kecil, dan saling mendorong adalah kebiasaan usil kami sehari-hari. Sehabis musim panen, kami menghabiskan waktu sore untuk mencari belut. Banyak sekali belut di sawah yang baru saja siap dipanen.
          “Tengok dulu bannya,” suara Ayah mengejutkanku dan penumpang lainnya. Ternyata Ayah sedang memberikan perintah kepada kernetnya setelah bus berhenti di pinggir jalan.
          “Bannya bocor, Tulang,” teriak seorang kernet tergopoh-gopoh.
          “Ya, sudah. Cepat ambil ban serapnya di belakang!” kembali Ayah memberi perintah untuk dua kernetnya.
          Dengan izin Ayah, aku turun untuk melihat kernet bekerja. Di tengah kegelapan malam, dua kernet Ayah dengan sigap memutar baut-baut roda bus. Mereka sangat trampil. Tak ada rasa kantuk terlihat di raut wajah mereka. Dinginnya malam tak jadi persoalan bagi mereka. Dalam waktu lima menit ban yang bocor sudah berganti dengan ban serap dan bus siap melaju kembali.
          Aku sangat terkesan dengan beratnya kerja armada bus. Kapan saja dan dimana saja mereka harus siap. Kondisi bus tidak dapat diduga-duga. Walaupun sebelum berangkat keadaan bus sudah diperiksa, tetapi dalam perjalanan apa pun bisa saja terjadi.
          Aku memandangi Ayah dari belakang. Betapa berat pekerjaan yang dilakoninya. Matanya tahan tak terpejam sepanjang malam hanya untuk menghidupi kami sekeluarga dan mengumpulkan uang untuk biaya sekolahku. Ayah tak pernah mengeluh.
          Trayek yang ditempuh Ayah adalah Medan-Jakarta. Sekali berangkat Ayah akan berada di jalan selama tiga hari dua malam. Karena itu, kami hanya bertemu Ayah paling cepat delapan hari sekali. Kalau kami tetap tinggal di Kotanopan, Ayah hanya singgah saja di rumah kami barang beberapa menit untuk meninggalkan uang belanja kepada Umak. Sebulan sekali baru Ayah akan berada di rumah selama dua hari. Karena itulah, Ayah mengajak kami sekeluarga pindah ke Medan. Ayah ingin setiap pulang trip dapat berlama-lama dengan kami. Ayah juga ingin aku mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Roda bus terus berputar. Sampai akhirnya pagi hari kami sampai di kota Medan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar