Bus Antar Lintas Sumatera yang kutumpangi
meliuk-liuk di jalan berkelok. Sorot lampunya memecah gelapnya malam seperti
kapal yang memecah ombak lautan. Aku duduk tepat di belakang bangku supir
sehingga dapat melihat jelas barisan pepohonan di kiri kanan jalan seolah
memberi hormat pada bus yang melintas. Supir bus sangat gesit membelokkan stir
menyesuaikan badan bus yang besar dengan tikungan jalan. Kuperhatikan sepasang
kaki pak supir yang bergantian menginjak pedal gas, rem dan kopling. Kagum aku
pada gerakan tangan, kaki dan fokus mata pak supir. Tangan, kaki dan matanya
bekerja sama menggerakkan roda-roda bus di jalan sepi.
Alunan
lagu Mandailing berjudul Bue Bue melantun
merdu. Sesekali bibirku bergerak dan mengeluarkan suara mengikuti lirik lagunya.
Aku sangat hafal lagu itu. Lagu itu bagaikan lagu wajib yang dinyanyikan Umak di
telingaku menjelang tidur. Suara lembut dan usapan tangan Umak di kepalaku
membuat lirik lagu itu tertanam kokoh di fikiranku. Kulihat di sampingku, Umak tertidur
pulas sambil memangku adikku yang baru berumur dua tahun.
“Inda pe modom ho, Suma?” Suara supir
terdengar dari depan menghentikan gerakan bibirku untuk bernyanyi.
“Belum ngantuk aku, Yah.” sahutku agak malas.
Ya.
Supir bus itu adalah ayahku. Sejak masih lajang, Ayah sudah bekerja di bus.
Ayah tidak langsung jadi supir. Umak pernah bercerita kalau sebelum jadi supir,
Ayah pernah menjadi kernet. Baru waktu aku berusia tiga tahun, Ayah naik
pangkat menjadi supir. Dan sekarang Ayah sudah menjadi cincu. Aku tak tahu
persis apa itu cincu. Yang aku tahu, Ayah
sekarang bertanggung jawab penuh dengan bus yang dibawanya dan karena itu pula
kami harus pindah ke kota Medan.
Sebenarnya
aku senang pindah ke Medan. Di Medan,
aku dapat melihat gedung-gedung tinggi dan bisa jalan-jalan ke mall kapan saja. Aku dengar cerita Ayah kalau
Medan itu kota besar nomor tiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya.
Cerita Ayah itu yang meyakinkanku untuk mau pindah ke Medan, walaupun aku masih
belum sepenuhnya yakin meninggalkan desa tempat aku dilahirkan. Desa Tombang
Bustak namanya. Nama desaku ini sering disebut orang dengan sebutan kuala
lumpur. Bukan karena mirip dengan kota Kuala Lumpur di Malaysia, melainkan
karena arti kata dari nama desaku. Dalam bahasa Mandailing tombang artinya tambang dan bustak
berarti lumpur.
Bus
terus melaju kencang. Sesekali terdengar suara klakson memecah kesunyian malam
dan seisi bus yang khusuk bermain dengan mimpi masing-masing. Mataku sama
sekali tak bisa kupejamkan. Aku masih saja mengenang masa-masa menyenangkan di
kampungku.
Terbayang
aku pancur paridian tempat aku dan
kawan-kawanku mengisi waktu pagi dan sore hari dengan seperangkat alat mandi.
Pancuran itu terletak tepat di belakang masjid. Letaknya berada di aliran
sungai Batang Gadis yang gagah mengalir dengan derasnya. Di tempat pemandian
ini, kami belajar berenang tanpa guru renang. Menyebrang sungai bersama.
Terkadang kami menggandeng beberapa batang pisang untuk dijadikan sampan yang kami
naiki dari hulu ke hilir. Dari pinggir sungai ini pula kami acap menikmati
indahnya pemandangan bukit barisan. Hawa dingin sudah menjadi sahabat kami
setiap pagi.
Terlintas
juga di pelupuk mataku, hamparan sawah di belakang rumah kami. Setiap pagi kami
melintasi pematang sawah untuk pergi sekolah. Berjalan, berlari kecil, dan
saling mendorong adalah kebiasaan usil kami sehari-hari. Sehabis musim panen,
kami menghabiskan waktu sore untuk mencari belut. Banyak sekali belut di sawah
yang baru saja siap dipanen.
“Tengok
dulu bannya,” suara Ayah mengejutkanku dan penumpang lainnya. Ternyata Ayah sedang
memberikan perintah kepada kernetnya setelah bus berhenti di pinggir jalan.
“Bannya
bocor, Tulang,” teriak seorang kernet
tergopoh-gopoh.
“Ya,
sudah. Cepat ambil ban serapnya di belakang!” kembali Ayah memberi perintah
untuk dua kernetnya.
Dengan
izin Ayah, aku turun untuk melihat kernet bekerja. Di tengah kegelapan malam, dua
kernet Ayah dengan sigap memutar baut-baut roda bus. Mereka sangat trampil. Tak
ada rasa kantuk terlihat di raut wajah mereka. Dinginnya malam tak jadi
persoalan bagi mereka. Dalam waktu lima menit ban yang bocor sudah berganti
dengan ban serap dan bus siap melaju kembali.
Aku
sangat terkesan dengan beratnya kerja armada bus. Kapan saja dan dimana saja
mereka harus siap. Kondisi bus tidak dapat diduga-duga. Walaupun sebelum
berangkat keadaan bus sudah diperiksa, tetapi dalam perjalanan apa pun bisa
saja terjadi.
Aku
memandangi Ayah dari belakang. Betapa berat pekerjaan yang dilakoninya. Matanya
tahan tak terpejam sepanjang malam hanya untuk menghidupi kami sekeluarga dan
mengumpulkan uang untuk biaya sekolahku. Ayah tak pernah mengeluh.
Trayek yang ditempuh Ayah adalah Medan-Jakarta. Sekali
berangkat Ayah akan berada di jalan selama tiga hari dua malam. Karena itu,
kami hanya bertemu Ayah paling cepat delapan hari sekali. Kalau kami tetap
tinggal di Kotanopan, Ayah hanya singgah saja di rumah kami barang beberapa
menit untuk meninggalkan uang belanja kepada Umak. Sebulan sekali baru Ayah akan
berada di rumah selama dua hari. Karena itulah, Ayah mengajak kami sekeluarga
pindah ke Medan. Ayah ingin setiap pulang trip dapat berlama-lama dengan kami.
Ayah juga ingin aku mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Roda bus terus
berputar. Sampai akhirnya pagi hari kami sampai di kota Medan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar