Selasa, 23 April 2019

Sekolah Baru

Sekolah Baru

          Suara azan di masjid dekat rumah membangunkanku. Aku bergegas bangun dan keluar dari kamar. Badanku terasa tidak nyaman. Udara di kota Medan sangat panas. Berbeda sekali dengan di kampungku yang dingin dan tidak bising. Kulihat Umak yang sedang sibuk di dapur.
          “Sudah bangun kau, Suma?” tanya Umak sambil membolak-balik masakan.
          “Sudah, Mak. Tak nyenyak aku tidur tadi malam, Mak. Panas kali kota Medan ini.” Sahutku sambil menuang air putih dari ceret kaleng bercorak bunga yang dibawa Umak dari kampung.
          “Awal-awalnya itu, Suma. Lama-lama dah terbiasanya kau nanti,” kata Umak sambil tersenyum menoleh ke arahku.
          “Mandilah kau dulu, setelah mandi shalat subuh.” perintah Umak.
          “Tak ada sungai di sini, Mak?” tanyaku.
          “Ada, tapi tak ada orang yang mandi di sungai karena sungai di sini sudah tercemar.”
          “Kenapa tercemar, Mak?” lanjutku.
          “Ah, tak tahulah aku, Suma. Cepatlah kau mandi di kamar mandi. Siap mandi, shalat subuh kau, lalu sarapan. Jangan sampai kau terlambat sekolah. Inikan hari pertamamu di sekolah yang baru.” jawab Umak mulai bosan dengan pertanyaanku yang seperti wartawan saja.
          Tanpa bertanya lagi, aku pun bergegas mengerjakan perintah Umak. Seperti seorang prajurit, aku mengerjakan tiga perintah Umak itu dalam waktu dua puluh menit. Ayah selalu bilang kalau anak laki-laki tidak boleh lambat kerjanya. Semuanya harus dikerjakan dengan cepat dan tepat.
          Setelah menyantap sarapan nasi goreng kampung masakan Umak, aku berangkat ke sekolah. Karena masih hari pertama, Umak mengantarkanku ke sekolah. Sambil menggendong adikku, Umak menggandengku berjalan menuju sekolah baruku. Sepanjang jalan fikiranku bercampur aduk. Ada senang, ada juga takut. Senang karena ini hari pertamaku sekolah di kota besar, takut karena aku belum punya satupun kawan di sekolah baruku. Mataku berkeliaran melihat sekitar. Kulihat ada anak sekolah yang diantar ibunya naik sepeda motor dan ada juga yang berhimpitan di dalam becak. Sepeda motor dan mobil lalu lalang membuat suara bising di telingaku. Semua kelihatan terburu-buru. Bau asap yang keluar dari knalpot kendaraan menghujam lubang hidungku. Tak ada anak-anak yang bernyanyi sambil lomba lari beramai-ramai seperti di kampungku. Pak polisi juga kelihatan sibuk mengatur jalanan dan membantu menyebrangkan anak sekolah. Sekolah baruku berada tepat di pinggir jalan raya. Kata umakku nama jalannya Sisingamangaraja.
          “Selamat pagi, Bu.” sapa Umak kepada seorang guru yang sedang berdiri di meja piket dekat gerbang sekolah.
          “Selamat pagi juga, Bu. Ada yang bisa saya bantu, Bu.” sahut guru tersebut dengan logat batak Toba yang ketara. Aku kenal sekali logat itu karena tetangga sebelah rumahku di kampung ada yang bersuku batak Toba.
          “Begini, Bu, seminggu lalu, suami saya sudah mendaftarkan anak saya untuk sekolah di sini. Anak saya pindahan dari Kotanopan, Mandailing Natal. Kata suami saya hari ini anak saya sudah bisa mulai sekolah, Bu.” jelas Umak dengan agak gugup dan badan yang sedikit dibungkukkan.
          “Oh, mari masuk ke kantor dulu, Bu,” ajak guru tersebut dengan ramah. Mantap kakinya melangkah ke arah kantor. Langkah kakinya menunjukkan kewibawaan. Bunyi sepatunya terdengar teratur dan berirama.
          “Silakan duduk, Bu. Perkenalkan nama saya Bu Sitorus. Saya guru kelas V. Hari Sabtu lalu, saya sudah diberitahu kepala sekolah bahwa akan ada siswa baru.” jelas guru yang bernama Bu Sitorus.
          Ternyata di Medan sama seperti di kampungku. Di kampungku, tak ada satupun siswa yang tahu nama lengkap gurunya. Kami hanya mengenal Bu Lubis, Bu Nasution, Bu Pulungan, Bu Harahap, Pak Pasaribu, Pak Siregar dan guru lainnya. Kami hanya tahu marganya saja. Ada juga guru kami yang bersuku Jawa. Karena tidak bermarga kami hanya tahu insial namanya saja. Kami memanggilnya Bu DL. Entah apa kepanjangan DL itu, sampai sekarang aku sendiri tak tahu. Dan kenapa tak diberitahu nama lengkapnya, aku juga tidak tahu. Aku menduga kalau panggilan itu sebagai bentuk penghormatan kepada guru.
          “Siapa namamu?” tanya Bu Sitorus.
          “Nama saya Ali Suma Pasaribu, Bu,” jawabku sambil menyalam dan mencium tangan Bu Sitorus.
          “Bah, pasaribu darimana kau, Suma?” tanyanya penuh semangat. “Suami ibu juga marga pasaribu.” lanjutnya.
          Aku terpelongo mendengar pertanyaan Bu Sitorus. Aku sama sekali tak tahu tarombo asal usul margaku. Yang aku tahu, marga pasaribu menempel di namaku karena ayahku juga bermarga pasaribu. Aku menoleh ke arah Umak berharap Umak bisa membantu menjawab pertanyaan yang diajukan Bu Sitorus.
          “Pasaribu bondar dia, Bu.” sela umakku seolah mengerti kalau anaknya sedang kebingungan. “Tapi ayah Suma tidak lahir di Tapanuli Utara, Bu. Ayahnya lahir di Pasar Matanggor, Gunung Tua, Tapanuli Selatan.” Umak menambahkan.
          “Oh, sama-sama pasaribu bondarlah, sama dengan suami saya.” timpal Bu Sitorus.
          Aku hanya terdiam melihat mereka berdua martarombo. Betul juga kata Ayah, kalau orang batak sudah cerita marga, bisa satu malam suntuk tahan bercerita. Ayah juga pernah bilang Sinungkun marga, asa binoto partuturan. Dahulukan tanya marga, supaya tahu sapaannya. Kalimat ini yang mungkin jadi pedoman orang Batak untuk saling bertutur sapa. Ayah juga pernah bilang kalau saudara itu tidak harus sedarah.
          Kring.... Kring.... Kring. Jam pelajaran pertama akan dimulai lima menit lagi. Seluruh siswa diharapkan berbaris di depan kelas dan masuk kelas dengan tertib.
          Terdengar suara dari pengeras suara. Ternyata itu adalah bel sekolah yang sudah diprogram dengan suara otomatis. Aku semakin takjub dengan sekolah di kota. Semuanya sudah serba otomatis. Kalau sekolah di kampungku, guru piket akan memukul besi bulat yang tergantung di depan ruang guru dengan martil. Kalau bunyinya terdengar tiga kali di pagi hari tandanya waktu belajar dimulai, kalau loncengnya dipukul dua kali tandanya istirahat, kalau dipukul tiga kali di siang hari tandanya waktu belajar telah selesai. Lonceng ketiga inilah yang paling ditunggu seluruh siswa di kampungku.
          “Baik, Bu, sudah waktunya masuk kelas. Ibu sudah boleh pulang. Biar nanti Suma, saya yang antar ke kelas. Nanti ibu boleh jemput lagi jam 12.30.” kata Bu Sitorus kepada Umak.
          Umak mengelus-elus kepalaku dan mencium keningku. Tak lupa dibisikkannya sebaris pesan dengan lembut di telingaku. “Burju-burju maho namarsikkolai da amang .“ Pesan Umak. Aku mengangguk sambil menyalam dan mencium tangan Umak.
          Saat yang kutakutkan pun tiba. Bu Sitorus mengajakku masuk ke dalam kelas. Jantungku berdetak kencang saat melangkahkan kaki melewati pintu kelas. Kulihat semua siswa berbisik-bisik dengan kawan sebangkunya. Semua mata mengarah kepadaku. Memandangku teliti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lututku mulai bergetar seolah tak mampu menahan bobot tubuhku yang sebenarnya tidak gemuk. Kulawan rasa grogi yang melanda. Aku bersikap pura-pura tenang. Pelan-pelan kulebarkan bibirku dan kutatap satu persatu siswa dari mulai sudut kiri ruangan.
          “Anak-anak, hari ini kalian dapat kawan baru.” kata Bu Sitorus sehabis menyapa siswa di kelas itu.
          “Ayo Suma, perkenalkan dirimu kepada kawan-kawan barumu di kelas ini.” pinta Bu Sitorus dengan tegas.
          “Selamat pagi, teman-teman. Perkenalkan namaku Ali Suma Pasaribu. Kalian bisa memanggilku Suma. Aku berasal dari desa Tombang Bustak, kecamatan Kotanopan, kabupaten Mandailing Natal.”
          “Ketara kali batakmu.” celetuk seorang siswa disambut dengan suara tawa serentak seperti paduan suara tanpa dirijen. Aku sudah menduga, dialekku pasti akan menjadi olok-olokan.
          “Tenang.... Semua tenang” Bu Sitorus mengambil alih kelas.
          “Kalian tidak boleh menertawakan cara bicaranya. Kita harus saling menghargai perbedaan suku yang ada di Indonesia. Mengejek cara berbicara suku lain sama saja dengan mengejek suku tersebut”, lanjutnya dengan wajah yang tampak sabar.
          “Suma, kamu boleh duduk di bangku kosong itu.” perintahnya sambil menunjuk ke arah bangku kosong yang di sebelahnya duduk siswa yang menyeletuk saat aku mempenalkan diri.
          “Halo, namaku Jhon Elden Situngkir, kau panggil saja aku Jhon.” sapa teman sebangkuku.          
          “Kau jangan marah ya, Suma. Aku Cuma bercandanya tadi. Aku juga orang Batak. Tapi aku sudah sejak lahir tinggal di Medan. Ayah dan mamakku pun lahirnya di Medan juga.” Tambah Jhon sambil menepuk-nepuk bahuku.
          “Gak apa-apa Jhon. Aku gak marah kok.” sahutku sambil tersenyum.
          Bu Sitorus memulai pembelajaran. Dia menampikan video seorang anak yang sedang berpuisi dengan alat yang aku tak tahu namya. Di kampungku belum pernah guru mengajar menggunakan alat itu.
          “Apa nama alat itu Jhon?” tanyaku keheranan.
          “Itu namanya LCD Projector, Suma. Kalau disini semua guru mengajar pakai alat itu. Mereka tinggal bawa laptop saja. Lalu menghubungkan laptopnya ke alat itu.
          “Anak-anak, hari ini kita akan belajar menulis dan membaca puisi. Kalian perhatikan video yang ibu tayangkan. Setelah itu kalian ibu minta untuk memberi tanggapan tentang puisi itu. Kalian mengerjakannya dalam kelompok. ibu akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok kecil. Satu kelompok terdiri atas empat orang.” jelas Bu Sitorus.
          Aku satu kelompok dengan Jhon, Satrio dan Brenda. Kami berempat dan semua kelompok lainnya asyik mengamati puisi yang dibacakan oleh seorang siswa SD juga. Judul puisinya “Ibuku Dahulu” karya Amir Hamzah. Pandai sekali anak itu membacakan puisi itu. Seisi kelas terdiam mendengar suara lantang anak itu. Kata-katanya jelas dan menusuk-nusuk ke hati. Terbayang olehku wajah Umak yang amat sabar mendidikku walau kadang-kadang aku nakal. Aku sering bersungut ketika disuruh Umak untuk sekedar mencuci piring bekas makanku. Wajah Umak seperti tepat berada di pelupuk mataku. Tersenyum kepadaku dan mengelus lembut kepalaku. Tak terasa air mataku menetes. Kulihat ke sebelahku. Jhon menutup wajahnya di atas kedua tangannya yang terlipat. Tak ada suara tangis terdengar, hanya bahunya yang bergoyang naik turun seperti orang yang sedang menahan tangis. Aku membatin kenapa Jhon sampai sesedih ini mendengar puisi itu. Sementara Satrio dan Brenda biasa saja melihat tayangan video dengan wajah datar.
          Setelah selesai menonton pembaca puisi itu, Bu Sitorus meminta kami untuk menulis tanggapan tentang puisi itu dan menuliskan puisi dengan tema “Ibu”. Masing-masing kelompok sibuk mengerjakan tugas yang diberikan Bu Sitorus.
          Setelah setengah jam berdiskusi, satu per satu kelompok memaparkan hasil diskusi mereka di depan kelas. Semua siswa sangat senang dan bersemangat menampilkan hasil diskusinya. Belum sampai pada tahapan menulis puisi, bel pulang berbunyi dan dengan sorak sorai bahagia semua siswa berhamburan ke luar kelas sambil menyalam Bu Sitorus yang berdiri di depan pintu kelas.

Selamat Tinggal Sungai Batang Gadis

    Bus Antar Lintas Sumatera yang kutumpangi meliuk-liuk di jalan berkelok. Sorot lampunya memecah gelapnya malam seperti kapal yang memecah ombak lautan. Aku duduk tepat di belakang bangku supir sehingga dapat melihat jelas barisan pepohonan di kiri kanan jalan seolah memberi hormat pada bus yang melintas. Supir bus sangat gesit membelokkan stir menyesuaikan badan bus yang besar dengan tikungan jalan. Kuperhatikan sepasang kaki pak supir yang bergantian menginjak pedal gas, rem dan kopling. Kagum aku pada gerakan tangan, kaki dan fokus mata pak supir. Tangan, kaki dan matanya bekerja sama menggerakkan roda-roda bus di jalan sepi.
          Alunan lagu Mandailing berjudul Bue Bue melantun merdu. Sesekali bibirku bergerak dan mengeluarkan suara mengikuti lirik lagunya. Aku sangat hafal lagu itu. Lagu itu bagaikan lagu wajib yang dinyanyikan Umak di telingaku menjelang tidur. Suara lembut dan usapan tangan Umak di kepalaku membuat lirik lagu itu tertanam kokoh di fikiranku. Kulihat di sampingku, Umak tertidur pulas sambil memangku adikku yang baru berumur dua tahun.
       “Inda pe modom ho, Suma?” Suara supir terdengar dari depan menghentikan gerakan bibirku untuk bernyanyi.
         “Belum ngantuk aku, Yah.”  sahutku agak malas.
         Ya. Supir bus itu adalah ayahku. Sejak masih lajang, Ayah sudah bekerja di bus. Ayah tidak langsung jadi supir. Umak pernah bercerita kalau sebelum jadi supir, Ayah pernah menjadi kernet. Baru waktu aku berusia tiga tahun, Ayah naik pangkat menjadi supir. Dan sekarang Ayah sudah menjadi cincu. Aku tak tahu persis apa itu cincu. Yang aku tahu, Ayah sekarang bertanggung jawab penuh dengan bus yang dibawanya dan karena itu pula kami harus pindah ke kota Medan.
    Sebenarnya   aku senang pindah ke Medan. Di Medan, aku dapat melihat gedung-gedung tinggi dan bisa jalan-jalan ke mall kapan saja. Aku dengar cerita Ayah kalau Medan itu kota besar nomor tiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Cerita Ayah itu yang meyakinkanku untuk mau pindah ke Medan, walaupun aku masih belum sepenuhnya yakin meninggalkan desa tempat aku dilahirkan. Desa Tombang Bustak namanya. Nama desaku ini sering disebut orang dengan sebutan kuala lumpur. Bukan karena mirip dengan kota Kuala Lumpur di Malaysia, melainkan karena arti kata dari nama desaku. Dalam bahasa Mandailing tombang artinya tambang dan bustak berarti lumpur.
     Bus terus melaju kencang. Sesekali terdengar suara klakson memecah kesunyian malam dan seisi bus yang khusuk bermain dengan mimpi masing-masing. Mataku sama sekali tak bisa kupejamkan. Aku masih saja mengenang masa-masa menyenangkan di kampungku.
          Terbayang aku pancur paridian tempat aku dan kawan-kawanku mengisi waktu pagi dan sore hari dengan seperangkat alat mandi. Pancuran itu terletak tepat di belakang masjid. Letaknya berada di aliran sungai Batang Gadis yang gagah mengalir dengan derasnya. Di tempat pemandian ini, kami belajar berenang tanpa guru renang. Menyebrang sungai bersama. Terkadang kami menggandeng beberapa batang pisang untuk dijadikan sampan yang kami naiki dari hulu ke hilir. Dari pinggir sungai ini pula kami acap menikmati indahnya pemandangan bukit barisan. Hawa dingin sudah menjadi sahabat kami setiap pagi.
          Terlintas juga di pelupuk mataku, hamparan sawah di belakang rumah kami. Setiap pagi kami melintasi pematang sawah untuk pergi sekolah. Berjalan, berlari kecil, dan saling mendorong adalah kebiasaan usil kami sehari-hari. Sehabis musim panen, kami menghabiskan waktu sore untuk mencari belut. Banyak sekali belut di sawah yang baru saja siap dipanen.
          “Tengok dulu bannya,” suara Ayah mengejutkanku dan penumpang lainnya. Ternyata Ayah sedang memberikan perintah kepada kernetnya setelah bus berhenti di pinggir jalan.
          “Bannya bocor, Tulang,” teriak seorang kernet tergopoh-gopoh.
          “Ya, sudah. Cepat ambil ban serapnya di belakang!” kembali Ayah memberi perintah untuk dua kernetnya.
          Dengan izin Ayah, aku turun untuk melihat kernet bekerja. Di tengah kegelapan malam, dua kernet Ayah dengan sigap memutar baut-baut roda bus. Mereka sangat trampil. Tak ada rasa kantuk terlihat di raut wajah mereka. Dinginnya malam tak jadi persoalan bagi mereka. Dalam waktu lima menit ban yang bocor sudah berganti dengan ban serap dan bus siap melaju kembali.
          Aku sangat terkesan dengan beratnya kerja armada bus. Kapan saja dan dimana saja mereka harus siap. Kondisi bus tidak dapat diduga-duga. Walaupun sebelum berangkat keadaan bus sudah diperiksa, tetapi dalam perjalanan apa pun bisa saja terjadi.
          Aku memandangi Ayah dari belakang. Betapa berat pekerjaan yang dilakoninya. Matanya tahan tak terpejam sepanjang malam hanya untuk menghidupi kami sekeluarga dan mengumpulkan uang untuk biaya sekolahku. Ayah tak pernah mengeluh.
          Trayek yang ditempuh Ayah adalah Medan-Jakarta. Sekali berangkat Ayah akan berada di jalan selama tiga hari dua malam. Karena itu, kami hanya bertemu Ayah paling cepat delapan hari sekali. Kalau kami tetap tinggal di Kotanopan, Ayah hanya singgah saja di rumah kami barang beberapa menit untuk meninggalkan uang belanja kepada Umak. Sebulan sekali baru Ayah akan berada di rumah selama dua hari. Karena itulah, Ayah mengajak kami sekeluarga pindah ke Medan. Ayah ingin setiap pulang trip dapat berlama-lama dengan kami. Ayah juga ingin aku mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Roda bus terus berputar. Sampai akhirnya pagi hari kami sampai di kota Medan.

Jumat, 22 Maret 2019

Catatan Harian Seorang Guru (1)

Dimana Kau Ayah. Dimana Kau Ibu?

Hari itu, Rabu, 20 Maret 2019 agak malas aku membuka mataku. Kakiku berdenyut sampai terasa ke kepala bagian belakang. Ingus yang belum jadi sesekali terhempas keluar dari lubang hidungku yang tak mancung. Tapi suara permaisuriku tak berhenti memanggil dan mengingatkan waktu shalat Subuh hampir habis. Malas, namun kulangkahkan juga kakiku yang terasa sakit kalau dipijakkan. 
Habis mandi, shalat, sarapan dan sedikit bercengkrama dengan tiga buah hatiku, perlahan aku menyetir Xenia hijau menuju sekolah. Bercanda ria dengan anak-anak sering kulakukan di pagi hari bersebab aku sampai rumah nanti pada saat hari gelap lagi. Kutelusuri jalan Medan - Binjai sejauh lebih kurang 40 kilometer. Hitunganku ada ada 16 lampu merah yang kulalui. Tapi hanya tikongan; tikungan kiri dan tikungan kanan. He....he....he.... Setelah satu jam, sampai juga aku di dapurku; SMP Negeri 13 Binjai.
Sampai di sekolah dua orang siswa sudah menunggu dan menagih janji untuk latihan. Mereka sedang bersiap untuk menghadapi lomba menulis artikel dan lomba pidato bahasa Inggris di Perpustakaan Binjai. Sesi latihan pun dimulai. Yang menulis artikel mulai mengembangkan kerangka tulisan yang sudah kami sepakati. Yang pidato bahasa Inggris juga melatih pidatonya di depanku. Aku memutar aplikasi stopwatch otomatis di laptop untuk mengukur waktu pidatonya. Kelucuan terjadi, saat dia berpidato, aku yang menyandarkan kepala di kursi ternyata keterusan tertidur lelap. Tak pernah aku begini sebelumnya. Aku terbangun dengan durasi waktu yang tertampil 15 menit, padahal durasi pidatonya hanya 5 menit dan belum habis ku dengar sampai habis. Baiknya anak ini, tidak membangunkanku dan membiarkanku tertidur sambil duduk di depan mejaku. Sungguh aku guru yang memalukan. he...he...he...
Penuh rasa malu, aku meminta maaf dan langsung menuju kelas 8-1 untuk mengajar. Baru 10 menit mengajar, datang dua siswa perempuan agak tergopoh-gopoh.
"Pak, di kelas kami ada yang kehilangan uang," lapornya.
"Lho, kok bisa? Dah lapor ke wali kelasnya, Nak,?" aku balik bertanya.
"Sudah, Pak. Tadi dah diproses bu Mega juga, Pak. tapi gak dapat orangnya. Buk Mega suruh kami lapor ke Bapak." anak itu menambahkan. 
"Baiklah, sebentar lagi bapak ke kelas kalian. Tunggu saja di kelas ya".
Aku pun berjalan ke kelas anak-anak yang melapor tadi. Sampai di kelas semua terdiam, termasuk aku. Aku memutar otak bagaimana memecahkan kasus ini. he...he..
Bermodalkan pengetahuan dari fim kartun Detective Conan, aku mulai investigasi.
"Berapa uang yang hilang?" tanyaku dengan tenang.
"Minggu lalu, 60 ribu pak, barusan tadi 80 ribu pak.? jawab si empunya uang yang ternyata adalah bendahara "Jula-Jula" di kelasnya. 
"Oke, Siapa yang mau mengaku mengambilnya? kejarku.
Tak satu pun siswa yang mengacungkan tangannya. Aku juga merasa bodoh mengajukan pertanyaan sebodoh itu. 
"Baik, anak-anak sekalian. Sekarang bapak ma tanya. Kalau ada yang kehilangan uang di kampungmu, kemungkinan besar pelakunya siapa?, tanyaku.
"Orang kampung itu juga, Pak." Jawab anak-anak itu serentak.
"Nah, sekarang kalau ada kehilangan di kelas ini, kemungkinan besar pelakunya siapa ya?, tanyaku lagi.
"Yang di kelas ini juga lah itu pak." jawab mereka lagi.
"Tapi tadi sudah diperiksa bu Mega semua tas dan kantong setiap siswa di kelas ini, Pak. Tapi gak dapat juga uangnya." ucap sang ketua kelas.
Kembali otakku berputar menemukan cara apa yang paling tepat untuk menemukan uang itu. Akhirnya kucoba cara yang sedikit horor.
"Nak, kalian kan tahu, kita tinggal di Tanah Seribu. Tak jauh dari sekolah kita ini, sudah kabupaten Langkat. Ada Namu Ukur ada Namu Sira-Sira. Di sana masih banyak dukun kan? Bapak kasih waktu 24 jam. Siapa saja yang mengambil uang itu, mengaku saja sama bapak diam-diam. Bapak akan menjaga rahasianya. Bapak pastikan tak ada orang lain yang tahu pelakunya. Kalau setelah 24 jam tidak ada yang menjumpai bapak, maka dukun bertindak. Artinya akan ada kutipan sumbangan kemalangan atas nama salah satu siswa di kelas ini. Kalian paham?. Jelasku pada mereka dengan berlagak pasti.
Setelah itu, aku meninggalkan kelas itu dan kembali mengajar di kelas bahasa Inggrisku. Baru lima belas menit mengajar, datang lagi siswa dari kelas yang tadi kehilangan. Kali ini bukan cuma dua siswa, tapi lebih dari sepuluh siswa yang datang dengan wajah ketakutan.
"Pak.... Pak.... Pak.... Uang yang 80 rbunya sudah dapat pak." kata mereka.
"Lho... Kok bisa....? Tanyaku heran tapi pasti.
"Iya pak. Uangnya dibalikkan ke tas saya pak. Tapi uangnya berserak-serak pak. Dimasukkan dalam tas saya pak. Tas saya pun masih terbuka pak. 
"Kalian tahu siapa yang mengembalikannya" kejarku.
"Gak tahu, Pak. Ada tuyul mungkin di kelas kami, Pak" jawab mereka ketakutan.
Aku kurang percaya dengan takhayul, kalau pun sekiranya betul tuyul yang mengambil, tak mungkin juga tuyul bisa mengangkat uang dua ribua yang sudah kusut. Kalau masa aku kecil dulu, ku dengar-dengar tuyul hanya bisa mengambil uang selembar, itupun uang baru.
"Nanti Bapak kelas kalian, Bapak siapkan dulu ngajar di kelas ini" kataku.
Mereka pergi dan aku lanjut mengajar. Belum lagi bebrapa kalimat yang kujelaskan pada siswaku, datang lagi mereka ramai-ramai hampir satu kelas.
"Pak...Pak... Ada tulisan ini di kertas pak. Kami gak tau siapa dan kapan diletakkan dilaci bendahara pak."'

"Ayolah kita ke kelas kalian." ajakku dengan perasaan aneh.
Sampai di kelas mereka, suasana kelas sudah gaduh dan riuh. Semua siswa ketakutan. Sudah ada beberapa guru di kelas itu. Aku berusaha menenangkan dan mulai angkat bicara.
"Siapa yang menulis kertas ini?"
Tak ada yang menjawab. Semua menatapku seolah mohon perlindungan.
"Siapa yang pertama menemukan kertas ini." tanyaku.
"Saya pak, tadi saya waktu cari-cari nampak kertas di lacinya pak" kata seorang siswa.
"Apa urusannya kamu melihat-lihat lacinya dan kenapa kamu curiga kalau kertas itu ada pesannya. Bukankah biasa kalau ada kertas di laci meja?" kejarku.
"Kelas kami gak pernah ada kertas di Meja pak. Karena kalau ada kertas di laci, dimarahi sama wali kelas pak." Jawabnya.
"Baik, sekarang kumpulkan semua buku catatan di meja bapak." perintahku.
Aku memancing lagi pengakuan siswa dengan mengatakan bahwa belum tentu yang menulis kertas ini adalah pelakunya. Mungkin saja dia iseng.
Pancinganku berhasil, seorang siswa mengacungkan tangannya dan mengaku kalau dia yang menulisnya. Seperti dugaan awalku, yang menulisnya adalah siswa yang pertama kali menemukan tulisan itu.
Aku menutup investigasi dengan membawa siswa itu ke ruanganku sambil menitipkan pesan, siapa saja yang mengambil uang itu, Bapak tunggu sampai jam empat sore ini di ruangan bapak.

Bell pulang berbunyi dan tak lama setelah itu dua siswa, satu perempun dan satu laki-laki menghadap dan mengakui perbuatan mereka. Dan di sinilah cerita sedih berurai air mata terjadi.

Si siswa perempuan mengaku mengambil uang sambil menganis meminta maaf kepadaku. Dia adalah anak korban perceraian kedua orang tuanya. Orangtuanya sudah bercerai sejak dia masih kecil. Ibu dan ayah kandungnya masing-masing sudah menikah lagi. Dia tinggal bersama neneknya, nenek dari ayahnya. Dia mengambil uang itu karena alasan perut. Dia juga ingin jajan seperti kawan-kawannya yang lain. Ayahnya jarang sekali memberinya uang jajan. Yang membuat hati ini sedih, neneknya melarangnya untuk bertemu ibu kandungnya. Dia diancam akan diusir dari rumah kalau dia berani bertemu dengan ibu kandungnya. Ini diperparah lagi dengan sikap ibunya. Ibunya juga tidak berani bertemu dia karena kalau bertemu ibunya akan diusir oleh suaminya yang baru. Pernah katanya dia dan adiknya beranikan diri untuk bertemu dengan ibunya, tetapi ibunya mengatakan "Ibu sayang sama kalian, tapi suami ibu melarang ibu bertemu kalian". Aku tak habis fikir, sayang seperti apa yang dimaksud ibu itu. Dan aku juga heran, ayah seperti apa yang tega meninggalkan anaknya dan hidup bersama istri baru. Apakah mereka tidak sadar, anak mereka rindu pelukan dan kasih sayang mereka. 
Si siswa laki-laki adalah anak yang setelah dilahirkan tak tahu siapa ayahnya. Berkali-kali aku bertanya memastikan kalau-kalau dia pernah bertemu ayahnya. Tapi dia menjawab sama sekali tidak pernah mengenal ayah dalam hidupnya. Haru menyelimuti hatiku. Bagaimana anak sekecil ini tumbuh tanpa tahu paling tidak siapa ayahnya. Apa kelak yang akan dia ceritakan pada generasi kalau bertanya siapa kakeknya. Sementara ibunya adalah TKW di Malaysia. Tak jelas juga dia sebagai apa ibunya bekerja di sana. Kadang mengirim uang-kadang tidak. Dia juga tinggal bersama neneknya. Aku bertambah benci pada negara ini. Yang bangga pada pertumbuhan ekonomi makro tapi tak seperti mentup mata pada kemiskinan yang terjadi. Pahlawan devisa meninggalkan duka. Duka bagi anak ini karena tak sempat dinyanyikan lagu pengantar tidur.
Kedua anak ini adalah korban egoisme orang tua. Atas nama harga diri, orang tua rela membiarkan anaknya tidur tanpa belaian kasih sayang dan nyanyian pengantar tidur. Hati mereka kosong. Mungkin mereka takut bercita-cita karena tidak ada yang rutin menanyakannya seperti orang tua yang lain.

Kutitipkan pesan kepada kedua anak jujur itu, WALAUPUN KALIAN LAPAR DAN MISKIN, JANGAN SEKALI-SEKALI KALIAN MENCURI.

Bersambung di hari berikutnya...



Kamis, 21 Maret 2019

LAPAK BACA UNTUK ANAK JALANAN


LAPAK BACA UNTUK ANAK JALANAN
            Anak jalanan adalah bagian dari generasi muda. Sebagai bagian dari generasi muda, tentu anak jalanan harus dianggap sebagai aset yang berpotensi untuk memajukan pembangungan di Indonesia. Keberadaan anak jalanan di setiap persimpangan lampu merah, pusat pasar, koridor pertokoan dan tempat keramaian lainnya selayaknya menjadi perhatian semua pihak. Harus disadari bahwa keadaan mereka bukanlah kehendak mereka sendiri melainkan faktor sosial ekonomi yang mengharuskan mereka bergelut dengan debu jalanan. Mengubah pola hidup mereka tidak cukup dengan diskusi dan pidato saja. Harus ada cara persuasif untuk mendekati mereka agar mau sekolah dan belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyediakan lapak baca untuk anak jalanan.
            Lapak baca dapat diartikan sebagai tempat untuk membaca. Anak jalanan dapat dipengaruhi cara berfikirnya dengan meyediakan bahan bacaan. Dengan kondisi jiwa anak jalanan, tentu sulit untuk mengajak mereka sekolah apalagi untuk berkunjung ke perpustakaan. Mendekatkan buku ke mereka adalah alternatif untuk mengajak mereka membaca. Penyediaan buku-buku bertema fiksi atau komik mungkin saja bisa mengundang ketertarikan mereka untuk membaca. Lapak baca dapat didirikan di setiap tempat mereka berkumpul. Di Sumatra Utara, ini sama sekali belum ada. Sumatra Utara akan menjadi provinsi literasi sebenarnya dengan menerapkan lapak baca ini.
            Keberadaan lapak baca memberikan alternatif kegiatan penumbuhan minat baca pada generasi muda, khususnya anak jalanan. Gerakan literasi atau gerakan membaca dan menulis selayaknya bukan hanya milik anak yang berseragam sekolah melainkan juga buat mereka yang kurang beruntung untuk merasakan pendidikan formal.
            Selama ini, gerakan membaca hanya menyentuh anak yang bersekolah saja. Perpusatakaan berkeliling dari sekolah ke sekolah saja. Tentu ini merupakan juga langkah baik. Tetapi jika dilihat dari sasarannya, hanya terbatas pada anak sekolah yang di sekolahnya juga sudah ada perpustakaan. Walaupun bermanfaat bagi siswa, tetapi ini seperti pribahasa ‘menebar garam ke laut’. Menambah rasa asin kepada sesuatu yang memang sudah asin. Sekali lagi, penulis mengatakan bahwa perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah bukan tidak baik tapi kurang terasa manfaatnya.
            Keberadaan anak jalanan seharusnya dikelola dengan mencerahkan pemikirian mereka. Cara efektifnya adalah dengan mendekatkan buku kepada mereka. Menyediakan lapak buku di titik-titik kumpul anak jalanan adalah solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca siswa. Semboyannya harus berganti dari “Ayo ke perpustakaan”” menjadi “Perpustakaan ada dimana-mana”. Tentu ini tidak hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan saja. Semua pihak harus berperan aktif dalam menciptakan lapak baca di titik-titik kumpul anak jalanan.
Langkah Strategis
            Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan lapak baca untuk anak jalanan.
1. Mobil perpustakaan keliling di titik kumpul anak jalanan.
            Seperti yang disampaikan sebelumnya, mobil perpustakaan hanya berkeliling ke sekolah-sekolah saja. Kita akan menemukan pemandangan yang sejuk dan cerdas jika mobil perpustakaan keliling di kerumuni oleh anak jalanan untuk membaca. Setiap hari mobil perpustakaan dapat berkeliling di pusat pasar, depan Mall, simpangan lampu merah dan semua tempat yang biasa digunakan oleh anak jalanan.
2. Menyediakan buku yang menarik
            Anak jalanan bekerja untuk hidup. Kalimat ini penting untuk mencari jenis buku yang sesuai dengan kondisi mereka. Misalnya, buku tentang cara berdagang yang baik, buku tentang teknik bermain gitar atau alat musik lain, buku tentang pola hidup sehat, cerita tentang orang-orang sukses. Buku fiksi bergambar sejenis komik juga mungking menarik mereka untuk hiburan. Buku-buku tersebut diyakini dapat bermanfaat langsung bagi kehidupan mereka tanpa harus menggurui mereka karena biasanya mereka tidak suka digurui. Lama kelamaan diharapkan mereka akan mencari buku lain yang bermanfaat bagi mereka. Setelah mereka sudah cinta buku maka mereka akan mendatangi sekolah untuk belajar.
3. Peran masyarakat
            Sumbangan buku untuk anak jalanan juga sangat membantu anak jalanan untuk berkesempatan membaca buku. Dengan mahalnya harga buku, sumbangan buku dapat memberi vitamin fikir kepada anak jalanan. Masyarakat dapat mendirikan lapak buku di tempat berkumpul anak jalanan.
4. Mengadakan lomba membaca untuk anak jalanan
            Ini adalah hal yang menarik. Anak jalanan dibujuk untuk mau ikut lomba berpuisi, lomba menulis, lomba pidato antar sesama mereka. Penulis yakin mereka akan semangat mengikuti ini karena puisinya pasti puisi yang ditulis dari hati dan pengalaman yang mereka rasakan. Dengan ketulusan hati, mereka akan berpuisi, berpidato dan bercerita tentang kehidupan nyata mereka. Hasil karya mereka dapat dijadikan rujukan untuk menggali bakat dan minat mereka.
            Lapak buku untuk anak jalanan ini bukan hal mudah untuk dilakukan. Namun dengan memandang keberlangsungan kualitas manusia Sumatera Utara di masa depan, hal ini harus dilakukan. Bagaimanapun mereka adalah bagian dari masyrakat. Mereka harus mendapat kesempatan yang sama dengan anak lain. Dengan usaha ikhlas, mereka akan mau membaca. Peran dari semua pihaklah yang dapat menumbuhkan minat baca mereka. Tujuan akhirnya adalah mereka dapat kembali ke bangku sekolah dan meraih mimpi mereka. Lapak buku diharapkan dapat menjadi ikon Sumatra Utara sebagai provinsi literasi.

Kamis, 28 Februari 2019

Guru, Penebar Toleransi


GURU, PENEBAR TOLERANSI

            Membaca tulisan yang bertajuk “Bila Guru jad Penyebar Kebencian” pada kolom Opini harian Analisa, Selasa, 23 Oktober 2018 sungguh membuat naluri keguruan saya tergelitik. Betapa tidak, paparan data hasil penelitian yang salah dan pemikiran yang kontraproduktif dalam satu opini menunjukkan ketidakfokusan penulis dalam memandang permasalahan pendidikan.
            Dari 2 (dua) sumber yang saya baca, hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah menunjukkan data sebanyak 57% guru memiliki opini intoleransi terhadap agama lain. Bukan seperti yang dituliskan sebanyak 63, 07%. Kemudian yang menjadi sampel bukan guru Agama Islam, melainkan guru yang mengajar di Madrasah. Dalam prinsip penelitian, lokasi dan subjek penelitian sangat mempengaruhi hasil peneletian itu sendiri. Walaupun hasil penelitian ini debatable, tetapi saya menghargai nilai keilmuan dalam metode ilmiahnya.
            Kemudian dugaan terhadap tindakan intoleransi yang dikaitkan dengan hasil penelitian tersebut pantas diduga sebagai satu kekeliruan. Rangkaian peristiwa yang dipaparkan terjadi dalam kurun waktu satu atau dua tahun terakhir. Pelakunya adalah orang dewasa, bukan usia sekolah. Artinya sangat berlebihan jika dikatakan bahwa guru yang berperan dalam aksi intoleransi tersebut. Dari perbedaan waktu saja sangat tidak berhubungan. Karena penelitian tersebut dilakukan selama satu bulan dari tanggal 6 Agustus 2018 sampai dengan 6 September 2018. Hanya dugaan dan prasangka yang mungkin menggiring opini untuk mengait-ngaitkannya.
            Pernyataan tentang guru yang menyebar kebencian juga dibantahkan oleh pernyataannya sendiri yang mengatakan bahwa “Kehadiran guru di zaman ini hanya sebagai pelengkap. Guru tidak lagi media transformasi pengetahuan. Para pelajar sudah lebih cerdas karena hi­­dup di alam digital yang menyediakan arus informasi tanpa batas. Para guru, ter­utama yang masih konvensional, lebih se­ring menjadi bahan olok-olokan.” Kalau nyatanya benar seperti itu, tentu guru yang diduga beropini intoleran itu akan menjadi bahan tertawaan siswa karena ada sumber lain yang mereka baca yang tidak sesuai dengan pernyataan guru tersebut. Atau sederhananya kalau disadari guru sebagai pelengkap, mengapa harus menyalahkan guru?
            Harus diakui bahwa bangsa kita sekarang sedang menghadapi banyak persoalan. Banyak tindakan tidak terpuji dari berbagai pihak meramaikan dinding-dinding media sosial. Tapi apakah ini salah guru? Ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bagian dari anak bangsa. Membaca hasil penelitian lalu menjeneralisirnya adalah suatu kenaifan. Kita harus saling mendukung untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.

Pendidikan 4.0
            Revolusi industri 4.0 mau tidak mau mempengaruhi proses pendidikan. Dan ini bukan hanya terjadi di negara kita. Seluruh negera di dunia sedang mempersiapkan generasinya bertahan dan unggul di era itu. Ini bukan hal yang menakutkan melainkan suatu tantangan yang harus dijawab dengan perubahan pola pendidikan. Ketakutan dan nada miring tentang revolusi industri 4.0 adalah satu indikasi kedangkalan berfikir tentang hakikat sebuah perubahan.
            Menurut Prof. ddr. Boris Abersek, Industri 4.0 setidaknya memiliki 4 (empat) prinsip yaitu interoperabilitas, keterbukaan informasi, dukungan teknik, decentralisasi pengambilan keputusan. Interoperabilitas merupakan merupakan kemampuan berbagai ragam sistem untuk bekerja sama dan kemampuan sebuah sistem untuk bekerja atau digunakan oleh sistem lain. Kemampuan manusia untuk terhubung dengan mesin dan teknologi dalam jaringan internet (digital) secara global.
            Keterbukaan informasi berbasis data dalam sistem informasi yang terkoneksi ke semua sistem merupakan nilai baik untuk menghasilkan karakter jujur dan profesional dan menyampaikan dan menerima informasi. Ini harus dipandang sebagai satu hal positif yang menghindarkan kita dari kekeliruan menangkap informasi. Dukungan peralatan, robot misalnya, harus juga dipandang sebagai hal positif. Begitulah kondisi yang harus kita hadapi. Bukan mengeluh dan tegang sampai naik tensi karena itu semua. Menciptakan inovasi pembelajaran di sekolah-sekolah, mengenalkan program robot dan cara membuat robot sejak dini adalah langkah positif yang dapat dilakukan daripada ketakutan yang tidak menentu. Dan pemerintah juga sudah mengarahkan pendidikan ke arah itu.
            Pernyataan yang menyebutkan bahwa industri 4.0 adalah sesuatu yang mengerikan juga sangat tidak beralasan. Pendidikanlah yang mengatasinya dan gurulah yang memfasilitasinya. Untuk kita ketahui bersama bahwa pada abad 21, lebih kurang 1/8 saja jumlah manusia yang dibutuhkan untuk pekerja musiman atau tidak mempunyai kualifikasi. Selebihnya 7/8 manusia adalah pekerja keras,  dan pekerja yang mau belajar dan dan mampu mengelola waktu dan pekerjaannya. Apakah kita harus menakuti keberadaannya? Guru harus optimis untuk menanamkan itu kepada peserta didik. Guru harus mampu memberi motivasi bukan malah menakut-nakuti. Ciri pendidikan 4.0 adalah melihat semua dari sisi baiknya, bukan sisi buruknya.
            Adalah keliru ketika dikatakan bahwa generasi milenial menghamba pada kecerdasan dan kekuatan dirinya sendiri. Karena keterampilan 4.0 menuntut manusia untuk cerdas emosinya dan mampu berkomunikasi dan menjaling jaringan dengan orang lain. Sifat kecerdasan pada masa ini sangatlah fleksibel.
            Dalam pendidikan 4.0, keberhasilan sistem pendidikan ditentukan oleh keseimbangan antara nilai tradisi dan kapasitas serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial baru. Sekali lagi ini adalah hal positif yang harus kita tularkan kepada siswa kita di sekolah masing-masing.
            Untuk menjadi guru yang baik di era ini, guru harus menguasai berbagai disiplin ilmu secara luas dan mendalam. Guru zaman ini tidak cukup menguasai bidang ilmunya saja. Guru harus tetap dinamis dan terus belajar. Memang ini adalah tantangan guru yang harus direspon dengan nada positif. Guru harus siap merubah gaya belajar konvensional dengan strategi mengajar modern berbasis masalah dan berbasis penelitian.
            Tugas guru adalah menebar nilai-nilai kebersamaan atau toleransi melalui penanaman berfikir kreatif, berfikir kritis, penyelesaian masalah, kolaborasi, kooperatif, dan berdialog. Tantangan kita adalah industri 4.0 harus diatasi dengan pendidikan 4.0. Pendidikan 4.0 sangat erat kaitannya dengan pendidikan karakter dan program literasi secara luas. Penanaman kemajemukan hidup sebenarnya sudah dilakukan guru untuk menyambut era 4.0 ini.
            Guru bukanlah satu-satunya sumber informas. Oleh karena itu, tidak pantas juga menyalahkan guru sebaga penebar kebencian. Masih banyak variabel yang menentukan tingkat intoleransi di negara kita. Kita seharusnya saling mendukung untuk menyiapkan generasi kita siap menghadapi revolusi industri tahap keempat ini. Bergandengan tangan dan tidak menyalahkan satu sama lain mengkin dapat membantu negara ini siap secara afektif, kognitif dan psikomotorik menciptakan robot, mesin dan teknologi informasi masa depan.


Minggu, 30 Juli 2017

Pembelajaran Bahasa Inggris

Sebagaimana sekolah lainnya pada tiap tahun pelajaran baru, para siswa baru diperkenalkan dengan lingkungan sekolah. Kegiatan ini pada dasarnya bertujuan untuk memudahkan siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya yang baru.
Sebelumnya kegiatan yang serupa dikenal dengan istilah MOS (masa orientasi siswa).  Tetapi MOS memiliki dampak negatif yang lebih besar pada pelaksanaannya sehingga kemudian Pemerintah mengeluarkan Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 sebagai acuan untuk melaksanakan PLS (Pengenalan Lingkungan Se­kolah). Melalui kegiatan PLS diper­kenalkan program-program sekolah serta sarana dan prasarana yang terdapat di sekolah sehingga para siswa dapat memanfaatkannya dengan baik, selain itu para siswa juga dapat mengenal atau menge­tahui teman-teman baru mereka di sekolah yang baru.
SMP Negeri 13 Binjai melaksa­nakan PLS selama tiga hari, dimulai hari Kamis-Sabtu, 20-22 Juli 2017. Dalam tiga hari ini siswa baru mendapat penjelasan dari kepala sekolah, para guru, dan para pe­ngurus OSIS tentang apa dan bagaimana SMP Negeri Binjai tempat mereka belajar selama tiga tahun ke depan.
“Siswa baru harus dapat meman­faatkan dengan baik kesempatan karena diterima menjadi peserta didik baru di SMP Negeri 13 Binjai. MInat pendaftar cukup tinggi, karena hanya 96 orang siswa baru yang diterima dari total jumlah 436 pendaftar,” ujar Kepala SMP 13, Pak Syamsul Agus S.Pd.
Selain menerima penjelasan tentang apa dan bagaimana SMP Ne­geri 13 Binjai, siswa baru juga menikmati suguhan pagelaran tam­pilan ekstrakurikuler yang ada. Pagelaran tarian, drama, Pramuka, PBB, dan PMR turut menyema-rakkan PLS di SMP Negeri 13 Binjai.
Pada bagian akhir kegiatan PLS, siswa baru bersama orangtua, para guru, dan kepala sekolah bersama-sama menerbangkan “Balon Cita-Cita”. Balon-balon ini disiapkan oleh setiap siswa baru dari rumah kemudian gasnya diisi di sekolah. Pada balon ini dirangkaikan kertas bertuliskan nama dan cita-cita, kemudian diterbangkan. Harapannya cita-cita yang tinggi ini dapat diraih sebagai sebagaimana bunyi peri­bahasa gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.