Kamis, 28 Februari 2019

Guru, Penebar Toleransi


GURU, PENEBAR TOLERANSI

            Membaca tulisan yang bertajuk “Bila Guru jad Penyebar Kebencian” pada kolom Opini harian Analisa, Selasa, 23 Oktober 2018 sungguh membuat naluri keguruan saya tergelitik. Betapa tidak, paparan data hasil penelitian yang salah dan pemikiran yang kontraproduktif dalam satu opini menunjukkan ketidakfokusan penulis dalam memandang permasalahan pendidikan.
            Dari 2 (dua) sumber yang saya baca, hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah menunjukkan data sebanyak 57% guru memiliki opini intoleransi terhadap agama lain. Bukan seperti yang dituliskan sebanyak 63, 07%. Kemudian yang menjadi sampel bukan guru Agama Islam, melainkan guru yang mengajar di Madrasah. Dalam prinsip penelitian, lokasi dan subjek penelitian sangat mempengaruhi hasil peneletian itu sendiri. Walaupun hasil penelitian ini debatable, tetapi saya menghargai nilai keilmuan dalam metode ilmiahnya.
            Kemudian dugaan terhadap tindakan intoleransi yang dikaitkan dengan hasil penelitian tersebut pantas diduga sebagai satu kekeliruan. Rangkaian peristiwa yang dipaparkan terjadi dalam kurun waktu satu atau dua tahun terakhir. Pelakunya adalah orang dewasa, bukan usia sekolah. Artinya sangat berlebihan jika dikatakan bahwa guru yang berperan dalam aksi intoleransi tersebut. Dari perbedaan waktu saja sangat tidak berhubungan. Karena penelitian tersebut dilakukan selama satu bulan dari tanggal 6 Agustus 2018 sampai dengan 6 September 2018. Hanya dugaan dan prasangka yang mungkin menggiring opini untuk mengait-ngaitkannya.
            Pernyataan tentang guru yang menyebar kebencian juga dibantahkan oleh pernyataannya sendiri yang mengatakan bahwa “Kehadiran guru di zaman ini hanya sebagai pelengkap. Guru tidak lagi media transformasi pengetahuan. Para pelajar sudah lebih cerdas karena hi­­dup di alam digital yang menyediakan arus informasi tanpa batas. Para guru, ter­utama yang masih konvensional, lebih se­ring menjadi bahan olok-olokan.” Kalau nyatanya benar seperti itu, tentu guru yang diduga beropini intoleran itu akan menjadi bahan tertawaan siswa karena ada sumber lain yang mereka baca yang tidak sesuai dengan pernyataan guru tersebut. Atau sederhananya kalau disadari guru sebagai pelengkap, mengapa harus menyalahkan guru?
            Harus diakui bahwa bangsa kita sekarang sedang menghadapi banyak persoalan. Banyak tindakan tidak terpuji dari berbagai pihak meramaikan dinding-dinding media sosial. Tapi apakah ini salah guru? Ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bagian dari anak bangsa. Membaca hasil penelitian lalu menjeneralisirnya adalah suatu kenaifan. Kita harus saling mendukung untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.

Pendidikan 4.0
            Revolusi industri 4.0 mau tidak mau mempengaruhi proses pendidikan. Dan ini bukan hanya terjadi di negara kita. Seluruh negera di dunia sedang mempersiapkan generasinya bertahan dan unggul di era itu. Ini bukan hal yang menakutkan melainkan suatu tantangan yang harus dijawab dengan perubahan pola pendidikan. Ketakutan dan nada miring tentang revolusi industri 4.0 adalah satu indikasi kedangkalan berfikir tentang hakikat sebuah perubahan.
            Menurut Prof. ddr. Boris Abersek, Industri 4.0 setidaknya memiliki 4 (empat) prinsip yaitu interoperabilitas, keterbukaan informasi, dukungan teknik, decentralisasi pengambilan keputusan. Interoperabilitas merupakan merupakan kemampuan berbagai ragam sistem untuk bekerja sama dan kemampuan sebuah sistem untuk bekerja atau digunakan oleh sistem lain. Kemampuan manusia untuk terhubung dengan mesin dan teknologi dalam jaringan internet (digital) secara global.
            Keterbukaan informasi berbasis data dalam sistem informasi yang terkoneksi ke semua sistem merupakan nilai baik untuk menghasilkan karakter jujur dan profesional dan menyampaikan dan menerima informasi. Ini harus dipandang sebagai satu hal positif yang menghindarkan kita dari kekeliruan menangkap informasi. Dukungan peralatan, robot misalnya, harus juga dipandang sebagai hal positif. Begitulah kondisi yang harus kita hadapi. Bukan mengeluh dan tegang sampai naik tensi karena itu semua. Menciptakan inovasi pembelajaran di sekolah-sekolah, mengenalkan program robot dan cara membuat robot sejak dini adalah langkah positif yang dapat dilakukan daripada ketakutan yang tidak menentu. Dan pemerintah juga sudah mengarahkan pendidikan ke arah itu.
            Pernyataan yang menyebutkan bahwa industri 4.0 adalah sesuatu yang mengerikan juga sangat tidak beralasan. Pendidikanlah yang mengatasinya dan gurulah yang memfasilitasinya. Untuk kita ketahui bersama bahwa pada abad 21, lebih kurang 1/8 saja jumlah manusia yang dibutuhkan untuk pekerja musiman atau tidak mempunyai kualifikasi. Selebihnya 7/8 manusia adalah pekerja keras,  dan pekerja yang mau belajar dan dan mampu mengelola waktu dan pekerjaannya. Apakah kita harus menakuti keberadaannya? Guru harus optimis untuk menanamkan itu kepada peserta didik. Guru harus mampu memberi motivasi bukan malah menakut-nakuti. Ciri pendidikan 4.0 adalah melihat semua dari sisi baiknya, bukan sisi buruknya.
            Adalah keliru ketika dikatakan bahwa generasi milenial menghamba pada kecerdasan dan kekuatan dirinya sendiri. Karena keterampilan 4.0 menuntut manusia untuk cerdas emosinya dan mampu berkomunikasi dan menjaling jaringan dengan orang lain. Sifat kecerdasan pada masa ini sangatlah fleksibel.
            Dalam pendidikan 4.0, keberhasilan sistem pendidikan ditentukan oleh keseimbangan antara nilai tradisi dan kapasitas serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial baru. Sekali lagi ini adalah hal positif yang harus kita tularkan kepada siswa kita di sekolah masing-masing.
            Untuk menjadi guru yang baik di era ini, guru harus menguasai berbagai disiplin ilmu secara luas dan mendalam. Guru zaman ini tidak cukup menguasai bidang ilmunya saja. Guru harus tetap dinamis dan terus belajar. Memang ini adalah tantangan guru yang harus direspon dengan nada positif. Guru harus siap merubah gaya belajar konvensional dengan strategi mengajar modern berbasis masalah dan berbasis penelitian.
            Tugas guru adalah menebar nilai-nilai kebersamaan atau toleransi melalui penanaman berfikir kreatif, berfikir kritis, penyelesaian masalah, kolaborasi, kooperatif, dan berdialog. Tantangan kita adalah industri 4.0 harus diatasi dengan pendidikan 4.0. Pendidikan 4.0 sangat erat kaitannya dengan pendidikan karakter dan program literasi secara luas. Penanaman kemajemukan hidup sebenarnya sudah dilakukan guru untuk menyambut era 4.0 ini.
            Guru bukanlah satu-satunya sumber informas. Oleh karena itu, tidak pantas juga menyalahkan guru sebaga penebar kebencian. Masih banyak variabel yang menentukan tingkat intoleransi di negara kita. Kita seharusnya saling mendukung untuk menyiapkan generasi kita siap menghadapi revolusi industri tahap keempat ini. Bergandengan tangan dan tidak menyalahkan satu sama lain mengkin dapat membantu negara ini siap secara afektif, kognitif dan psikomotorik menciptakan robot, mesin dan teknologi informasi masa depan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar